AKU, MEMORIKU & KAOS KAKI BLUES BAND

22 07 2014

Menapakkan kaki di Bumi Borneo, sejak tahun 2001 dan terpuruk ke jurang percobaan Tuhan yang terasa begitu dalam, dulu..(wiii, pake bahasa yang dramatis ah..), aku sempat berpikir, apakah langkahku untuk terus bermusik juga akan terkubur. Hidup dengan kondisi 360 O yang berbeda dIwan & Ari3ari sebelumnya, membuat aku hampir frustasi. Kerja enak di sebuah kantor majalah di Semarang, karir bandku Dreamlovers yang tinggal selangkah ke dapur rekaman, teman-teman yang berwawasan & asyik, dll,.menjadi seperti sebuah mimpi indah yang lenyap ketika terbangun dari tidur.

Cinta, persahabatan,..adalah persoalan chemistry. Bukan sekadar dekat, lalu jadi. Band pun demikian. Dulu berkali-kali ngeband dengan beberapa teman di beberapa kota di Jateng, atau DKI, ya biasa saja. Main manggung lalu good bye. Tapi baru benar-benar fall in love, dan bisa saling mengisi di Dreamlovers formasi tahun 2000. Mungkin benar, ‘jodoh’ itu tergantung pada siapa & kapan. Soalnya, gitaris & pemain bas Dreamlovers saat itu; Didiet & Bayu, pernah juga ngeband bareng di grup Butterfly (saat mereka masih SMA dan aku putus kuliah kerja di Radio CitraFM-Kendal/ Rasika FM-Ungaran) di mana kebetulan kami menyabet Juara Harapan II A-Mild Music Festival tahun….(Aah, ntar keliatan tuanya. Gak usah disebut deh!)

Bersama adik angkatku; Gunung (keyboard vocal III), Anita (vocal II), Billy (drum), Didiet (guitar) dan Bayu (bass), kami merasa sebagai sebuah keluarga yang saling mengasihi & mendukung. Sampai-sampai pacar Anita pun faham sekali, tiap kali ngantar ceweknya itu, dia selalu pamit pergi lantaran sadar kamilah ‘kekasih’ pertamanya..he he he. Manggung di kampus-kampus, lalu Kafe Kevi di Plasa Simpang Lima/ Matahari Department Store, merupakan pengalaman tak terlupakan bagi kami.

Dan hampir tujuh tahun berjuang dengan kehidupan yang mulai dari titik minus (di bawah nol), aku nyaris depresi karena tak ada kawan pengganti anak-anak Dreamlovers formasi tahun 2000. Otomatis, tak ada yang namanya nyanyi-nyanyi atau main musik. Paling banter didapuk berkaraoke waktu ada acara perpisahan di sekolah tempat aku pernah mengajar.

Pernah sekaliii aku berdiriii, dari Jakartaa ke Surabayaa..lho kok kayak lagu Kereta Malam-nya Bang Haji Rhoma Irama ya?..Maksudku, pernah sekali aku nyoba latihan, diajak teman-teman istriku yang saat itu kerja di sebuah kantor koperasi simpan pinjam..Eeehhh, alirannya alay!..Alaymaakk jadinya..Tapi okelah, gak apa-apa, pengalaman baru; diajak band alay..He he..Toh orangnya baik-baik, dan full sopan santun.

Sampai akhirnya, di tahun 2010, kenal sama ‘insan-insan’ penuh kegilaan di Ampah seperti Wahyu ‘Black’ Atong, Awat, dll dan kami main bersama dengan formasi Wahyu Atong (gitar), Dayat (gitar), Gedek & Awat (dram gantian), dan Kristian ‘Semes’ (bas). Kumpulan ‘anak tua’ yang punya energi pernah tersia-sia. Alirannya; rock & metal lah. Lagu-lagunya God Bless, Boomerang & Helloween.

Tiga kali tampil bersama Awat, Chandra (mengganti Dayat & Wahyu), & Semes, pada akhirnya kami harus vakum lantaran kesibukan para personelnya. Kristian alias Semes, diangkat jadi Bendahara rutin di Badan Kesatuan Bangsa & Perlindungan Masyarakat & Politik (Kesbanglinmaspol) Kab Barito Timur,  Awat agak keteteran dengan tugasnya sebagai Mantri Kesehatan Gigi dan beberapa hal lain, Wahyu –yang bergabung lagi– back to Yogya, Jaro yang sempat gabung ke latihan sebagai keyboardis menggantikan Ritho, sibuk juga sebagai Fasilitator Proyek PNPM Kec Raren Batuah.

Untung di tengah kefrustasian sesaat lantaran beberapa teman ‘ngilang’, komunikasi dengan Ari Buntoro, seorang petugas kepolisian yang pernah ditugaskan sebagai pengamanan di KPU Kab Bartim, terus terjalin. Kami kenal sejak aku direkrut jadi anggota PPK Kec Dusun Tengah sejak PemiluKada 2008. Tapi aku baru tahu bahwa sesungguhnya yang bernama R Ari Buntoro itu seorang pemain musik juga, ketika kami ketemu di satu festival di GPU Mantawara Tamiang Layang 2011. “Asyik juga stage actnya. ‘Ilmu’ gitarnya pun mumpuni..,” kataku dalam hati ngeliat aksi panggung kawanku itu.

2013. Beberapa kali sempat bercanda-canda nge-jam bareng, nggak terduga, suatu hari Ari nelpon aku, minta mengisi posisi vokal lantaran vokalis aslinya pindah tugas ke luar daerah. Saat kutahu alirannya hard rock dengan konsep lagu-lagu legenda, aku langsung OK. Kebetulan, sudah lama sekali aku kangen main lagu-lagu rock klasik. Hanya berselang dua hari dari latihan, kami maju ke satu festival tingkat Kalimantan Selatan & Kalimantan Tengah (Kalselteng) di Buntok, Kab Barito Selatan. O ya, di grup inilah aku ketemu Domy, bintara polisi juga kayak Ari, yang gila musik dan permainan basnya lumayan yahud. Juga dua kawan baru; Din & Edha.

Alhamdulillah, dengan latihan dadakan, Kaos Kaki Blues, band yang ngajak aku ini, menyabet gelar Juara Favorit. Dan seperti dipenuhi faktor luck, meski hanya satu-dua kali latihan, dengan jadwal dadakan; Kaos Kaki Blues hampir selalu menyabet gelar juara. Tapi yang bikin seneng, sebetulnya bukan itu. Kami sama-sama punya visi, ikut di festival bukan melulu tertuju pada soal merebut gelar juara. Tapi ‘meliarkan rasa & jiwa’ rock n’roll kami.

Memang teman-teman di grup baruku ini punya skill musikalitas yang oke. Tapi aku mencoba melihat dari sudut yang lain. Kalo bicara, nyambung. Soal solider & toleran, mereka patut diacungi jempol. Dan lain-lain. Aku inget anak-anak Dreamlovers. Kurang lebih sama seperti ini. So,buat aku, “Welcome, this is your new really life”..Sepertinya, ada beberapa yang ingin aku kontribusikan buat satu-satunya band yang setia dengan konsep rock klasik di Kab Barito Timur ini.

Kalo pun kadang aku diminta main dengan grup lain atau tampil ‘yogya’ alias sendirian. (Gak pake istilah ‘Solo’ ah..), ya nggak main konsep itu. Sekadar fun & menjalin tali silaturahmi dengan kawan lain aja. Buat aku, bermain bersama Kaos Kaki Blues adalah serasa mengembalikan spirit masa ABGku. Seperti menapakkan kaki pada jendela masa silam, di mana aku tumbuh besar saat lagu-lagu itu sedang jadi tren. Rasanya selalu romantis…And, I think this life is keep going on, with Kaos Kaki Blues…**

 

Iklan




TANPA VOKALIS = TANPA ‘NYAWA’ (LAGI)?

29 08 2012

 

Mungkin judul di atas nggak berlaku buat ‘dewa’nya gitaris (neospeed metal) dunia, Yngwie Johan Malmsteen. Pergantian para vokalis dari band besutan Yngwie yang juga bernama sama (Yngwie Malmsteen band) itu, sepertinya nggak ngaruh. Ingat aja dari mulai Jeff Scott Soto, Mark Boals, Joe Lynn Turner, Goran Edman dst, tetap membuat pamor Yngwie terus bertahan sampai era hard rock/ heavy metal mulai bergeser di era ’90 ke atas, di mana tren musik alternative-rock/ grunge, industrial rock dll mulai naik ke permukaan.

Tapi harus diakui, vokalis sudah telanjur diindentikkan dengan apa yang disebut icon, imej, dedengkot, atau sebutan apa lagi, bahkan para fansnya menasbihkan mereka sebagai leader, walaupun kenyataannya belum tentu. Contohnya; pimpinan  Dewa (19) adalah Dhani Ahmad Prasetyo, pimpinan Kahitna adalah Yovie Widianto, pimpinan Keris Patih adalah Badai, dan masih banyak contoh lain lagi. Termasuk juga ‘kasus’ Yngwie tadi.

Vokalis memberikan ruh tersendiri bagi sebuah kelompok musik. Mungkin kita nggak bakal seru ngeliat The Rolling Stones tanpa Mick Jagger lagi, atau –generasi sekarang—nikmatin The Changcutters tanpa Tria. Penyanyi dalam sebuah band seolah ditakdirkan menjadi sesuatu yang sangat memberikan sentuhan bagi kelompoknya tersebut. Begitu orang melihat dia, yang kebayang ya itulah bandnya! Makanya, kenapa grup legenda dunia The Beatles nggak mau bertahan lagi setelah John Lennon tertembak mati (oleh fansnya sendiri, Mark David Chapman). Atau di negeri kita, Seurieus meredup paska hengkangnya Candil.

Mari tengok sejarah musik di mana para vokalis sangat memberikan nuansa dan keidentikan bagi bandnya, antara lain: Joe Hahn & Chester Bennington (Linkin Park), Ahmad Albar (God Bless/ Gong 2000), W Axl Rose (Guns N Roses), Amy Lee (Evanescence), dan lain-lain.

Dan kita juga bisa ngebuktiin setidaknya lantaran alasan inilah, beberapa vokalis yang udah keluar atau dikeluarin, masuk lagi ke grup bandnya lantaran begitu dia ‘go’, bandnya langsung ‘dijauhin’ fansnya; Bruce Dickinson (Iron Maiden), Vince Neil (Motley Crue), Minoru Niihara (Loudness), Krisyanto (Jamrud) dsb. Atau begitu sang vokalis keluar, kelihatannya sulit buat band tersebut kayak dulu lagi lantaran gak identik lagi. Meskipun, yang ngegantiin, bisa jadi lebih cakep atau lebih cute. Naff yang ditinggal Adi dan Cokelat yang ditinggal Kikan, juga Keris Patih yang ditinggal Sammy bisa jadi contoh sulitnya mencari figur sekuat atau sekarakteris mereka. Coz, mereka itu punya ciri khas sendiri dan mampu memberikan ‘nyawa’ bagi grup bandnya.

Jadi, begitu terlontar kata “lo-gue-..end!” antara sang vokalis sama bandnya, maka bisa jadi yang terbentang selanjutnya adalah sebuah pertaruhan imej, yang nggak bakal sembarang musisi bisa kuat nyandang, kalo gak ada kharisma bener-bener kuat pada pemain lain di band tersebut. Semisal; begitu Peter Gabriel pergi dari Genesis, Phil Collins, sang drummer, menggantikannya, ngerangkap tugas sebagai vokal. Dan itu yang akhirnya bikin Phil malah lebur dengan profil Genesis. Atau di negeri kita, cabutnya vokalis pertama Kotak; Pare, malah lebih nanjak saat Tantri masuk ngegantiin dia lantaran punya karakter yang lebih kuat.     iwan p





I’M SO MISSING DREAMLOVERS!!!!

11 07 2012

Penampilanku bareng Gunung (keyboard, vocal), Nita (vocal), Bayu (bass, backing vocal), Didiet (guitar) plus additional player; Anto (drum) di Kafe Kevi, Plasa Simpang Lima Lt. Dasar, Semarang, Juni 2000, barangkali adalah kenangan manis terakhirku bersama Dreamlovers Band. Di momen itu, kami membawakan Elang, Risalah Hati, Love Hurts, What’s Up, Cinta ‘kan Membawamu Kembali, My Love, Roman Picisan, Restoe Boemi, dan beberapa lagu lain yang dapat respon hangat dari pengunjung, yang kebetulan memenuhi kafe tsb.

Sebenarnya, Didiet & Bayu bukan personel asli Dreamlovers. Mereka pernah ngeband bareng aku di A-Mild Live Music Festival, GOR Bahurekso, Kendal, Jawa Tengah, 1999 dan kebetulan nyabet gelar Juara Harapan I pakai bendera Butterfly Band. Tapi aku sayang banget ama mereka, seperti juga aku nyayangin Gunung yang dalam kehidupan pibadiku is like my real brother. Dan aku pengin nyatuin mereka yang aku sayangi ini (plus kemudian ada Anita alias Nita dan Anto yang daruratnggantiin posisi Faisal ‘Butterfly’) di Dreamlovers. Meski cuma sekali, paling nggak usaha gua berhasil’kan?

Dreamlovers sendiri boleh dibilang band obsesi gua sejak SMA (sori, taon berapa lu kagak usah tahu! Gua minder ketauan tua!). Gua nediriin band ini sama sohib gua; Agung dengan kiblat musik heavy metal/ hard rock, maenin lagu-lagunya Scorpions, Twisted Sister, Deep Purple, God Bless dll. Sayang, vokal gua dinilai kurang garang & tinggi –waktu itu- hingga kemudian lewat proses berkali-kali ganti formasi, gua ngerubah style musik ke Top 40 (Top Fourty) supaya bisa ‘ngamen’ dan luwes ke sasaran telinga yang lebih luas.

Ganti format ini rupanya sedikit bawa hoki. Dari panggung-panggung kecil, formasi ke-lima (kalo nggak salah inget) Dreamlovers dapat kesempatan manggung di acara Graha Sunday Music Festival, Hotel Graha Santika, Semarang, 1993. Mainnya nggak nge-rock total lagi,lantaran juga bawain lagu dengan berbagai corak, kayak blues rock (Still Got The Blues-Gary Moore), reggae (Cant Help Falling In Love-UB 40) sampai dangdut yang kami aransir sendiri; Tidak Semua Laki-laki.

            Jujur, obsesi terbesar gua adalah rekaman bawa bendera Dreamlovers. Bahkan kita ngelobi seorang produser di Semarang, Mas Harris yang baru aja nyupport Mas Didi Kempot lewat lagu Tanjung Mas. Waktu kita ‘nyerbu’ studionya, Harrica Record, Mas Harris sih nggak janjiin pasti nerima 100%, dia hanya nyaranin anti beberapa komposisi nada dengan nada yang lebih familiar dan stok lagu ditambah. Yang jelas, gua ngerasa ada kans buat Dreamlovers maju. Gua, Gunung, Nita, Didiet, Bayu & Billy (teman lama tapi baru gabung) bisa jadi satu one happy family. Sebab kami emang sudah satu hati, tertawa, menangis dan pernah juga berantem –kecil-kecilan sih- bersama. Five brothers & a sister di situ. Soal popularitas, kayaknya bukan hal yang utama jadi pikiran kita berenam. Tapi lebih ‘gimana kita bisa bareng, atas nama persaudaraan, cinta kasih dan punya pendapatan dari sebuah dunia yang kita cintai.

Tapi, seperti kata orang; “Manusia boleh bercita-cita dan berupaya, tapi  Tuhanlah Yang Maha Punya Kuasa”. Jalan setapak yang kurintis, buyar, luluh lantak, sirna, atau kata-kata sastra apalagi terserah kalian deh. Kupikir dengan married di usia relatif muda –waktu kemarin-, aku bisa kembali ke Semarang, meneruskan langkah itu lagi. Nyatanya aku justru terseret ke pusaran sebuah dunia yang sangat tidak bisa kuterima dengan segenap jiwaku, sampai saat ini. Lingkungan yang sangat konservatif, pola pikir orang-oang yang sempit, dll yang harus jadi ‘santapan’ku dan gilanya kadang aku harus nurutin pusaran itu agar tak dianggap ‘aneh’.

Sudahlah, apa yang sudah terjadi dan ada di hidupku nggak perlu disesali. Hanya saja, aku sering meminta pada Allah, agar sekiranya aku bisa bertemu lagi dengan Gunung, Nita, Didiet, Bayu & Billy. Bersama kembali di atas satu panggung. Walaupun mungkin nggak ada peluang lagi buat ngelangkah ke proses rekaman mayor label. Indie label juga nggak apa. Bagiku, mimpi yang pernah berkeping ini belum usai. Bagiku, Dreamlovers adalah rumahku, keluargaku, bagian dari hidupku selama aku masih dapat menyanyikan nada-nada dari sebuah lagu…***

 





WASPADAI PERALIHAN MUSIM!! JAUHKAN KEBIASAAN TIDAK SEHAT!

24 05 2012

Jangan e’ek sembarangan kayak mereka tuh! ! Beraklah di tempat yang semestinya (kucing aja ngertiii..)

Memasuki hitungan musim kemarau ini, cuaca sering tidak menentu. Perubahan suhu udara mendadak dan mulai surutnya air, berpengaruh terhadap kesehatan kita

Oleh sebab itu, jauhkan kebiasaan-kebiasaan tidak sehat, seperti minum es berlebihan, buang sampah maupun BAB di sembarang tempat, dan lain-lain. Ingat penyakit musiman seperti disentri, kolera dan sebagainya! Jangan sampai kesehatan Anda terenggut!

Iklan Layanan Masyarakat ini dpersembahkan oleh: PUSKESMAS KECAMATAN DUSUN TENGAH





FESTIVAL MUSIK & SOLO VOKAL OIKUMENE I

25 04 2012

PIONIR KEGIATAN MUSIKAL ROHANI se-DAS BARITO 

Sebelum saya membahas kegiatan ini jadi sebuah artikel reportase, lebih dulu saya minta maaf kepada pihak penyelenggara, lantaran ada satu hal yang mungkin kecil, tapi menurut saya fatal dari sisi estetika bahasa. Yaitu label kegiatan yang saya baca di proposal teman-teman panitia; “Festival Music & SoloVocal Oikumene…” dan seterusnya, dan seterusnya.

Kalau melihat kata tadi,dan kalau mau mengacu pada standar Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) bukankah seharusnya bukan “Music”, tapi “Musik” (pakai “K”?). Dan, bukannya “Solo Vocal”, tapi “Vokal Solo” (sesuai asas DM alias Diterangkan-Menerangkan). Tapi ya sudahlah, ini perkara yang tak perlu diperdebatkan lebih dalam. Saya lebih melihat, semangat teman-teman penggagas acara ini patut diacungi jempol. Meski saya bukan seorang Kristiani, tapi saya senang melihat rekan-rekan punya ide positif yang berbeda dari biasanya. Soalnya, selama ini kegiatan festival musik di wilayah Daerah Anak Sungai (DAS) Barito lebih pada festival musik umum.

Menurut analisis saya, eh sorry, itu sih kata Mas Sentilan-Sentilun ya?…maksudnya; menurut penilaian saya, festival musik rohani ini perlu diadakan untuk memberikan tantangan pada teman-teman aktivis gereja. Sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda di kawasan Barito pun punya ide cemerlang. Lagian kalau saya pikir, ini bisa jadi ajang silaturahmi para pegiat dari berbagai denominasi (aliran) gereja.

Kembali ke soal festival, dikatakan oleh Ketua Panitia, Awatno AMKG, ajang ini sudah meminta restu pada Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) Resort Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Karau, yang merupakan pemegang amanat majelis wilayah sini. Dan Awat –panggilan akrab Awatno—juga menampik kalau ada yang mengatakan kegiatan ini mengandung aroma politis.

“Saya tegaskan, kita tidak memanfaatkannya sebagai ajang promosi politik, mentang-mentang Barito Timur akan menghadapi Pilkada tahun 2013. Ini kegiatan murni berbau keagamaan, jadi harus steril dari apapun yang berbau politik. Saya malah mempersilakan semua bakal calon kandidat berkontribusi di sini, dalam berbagai bentuk. Apakah itu spanduk, souvenir, atau apapun. Monggo, silakan,” kata pria yang dikenal kerap malang melintang di dunia festival skup se-Barito dan berposisi sebagai vokalis serta drummer beraliran rock ini.

Untuk mendukung kegiatan, imbuh Awat, pihaknya juga sudah minta dukungan dari pemerintah daerah. Kebetulan, Wakil Bupati, Ir Yuren S Bahat MT MM, adalah juga Ketua Majelis Sinode se-Barito Timur. Dan ia juga meminta dukungan dari politisi muda Ariantho S Muller ST, yang dikenal dekat dengan kalangan anak muda.

“Perkara apakah keduanya jadi berlaga di Pilkada mendatang, dengan latar belakang masing-masing, jangan dikaitkan di sinilah. Toh mereka bisa beda ‘warna’. Dari pihak lain pun saya terima keikutsertaannya jika berkenan. Yang jelas, untuk kegiatan ini kita lupakan sejenaklah segala kepentingan duniawi, karena kita bekerja untuk Tuhan,” tegasnya.

Festival yang akan digelar bulan Mei mendatang tsb, akan memperebutkan total hadiah Rp 40 juta dan bagi Juara I, dikatakan Awat, berkesempatan untuk masuk dapur rekaman (lagu rohani). Para peserta yang ingin ikut, dipersilakan menghubungi dirinya atau teman-teman panitia, di nomor HP 0856 5104 8144.

Adapun lagu-lagu yang dipertandingkan, antara lain:

 

Kategori Vokal Solo Putri, lagu wajib:

-Karya Terbesar (Maria Shandy)

Bagi Tuhan Tak Ada Yang Mustahil (Sari Simorangkir)

Walau Seribu Lebah (Nikita)

 

 

 

Kategori Vokal Solo Putra, lagu wajib:

-Permata Hatiku (Sammy Simorangkir)

-Tuhan Pasti Sanggup (Mike Idol)

-KasihMu Tiada DuaNya (Frangky Sihombing)

 

Dan seterusnya (nggak cukup ruangan nih buat nulis semuanya, bro!). Pokoknya, silakan hubungi panitia di nomor tadi lah, untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut & lebih komplet..  –iwan pras

 





GOOD JOB, I LIKE IT!

24 03 2012

 

Antusiasme masyarakat kami di Ampah, the small ville in Kabupaten Barito Timur, terhadap pertunjukan musik live memang jempol. Jangankan yang gratisan, yang pake bayar aja tetep dirubung kayak permen yang ngundang kedatangan semut! Makanya, adalah satu kesalahan besar kalau sponsor dihinggapi perasaan ragu atau malas bikin pagelaran di sini.

Antusiasme itu bisa diukur juga dari cara mereka merespon lagu-lagu yang dimainkan band yang tampil, bahkan juga band itu sendiri. Seperti juga band ‘dadakan’ kami, “P-Mack’syang manggung di acara Gulden Jump Street, medio Pebruari ini. Harus kita akui juga, band-band yang tampil emang bagus, rapi dan bersih. Mungkin lantaran persiapan mereka cukup matang buat tampil di acara yang menggunakan stage truk trailer ini.

Memang, band kami pun boleh dibilang sukses juga. Tapi itu dari sisi respon penonton, yang mayoritas ‘kroni’ kami semua. Dari sisi performance atau stage act ya boleh jugalah, cuman kalau mau jujur kehadiran dua ‘additional musicians’ kami, Yudi ‘Gedek’ (drum) dan Milo (bas), yang mendadak nongol dua jam sebelum pementasan, agak bikin kerepotan. Selama ini, formasi kita adalah saya sendiri; Iwan “Resa” (vokal utama), Awat (dram, vokal), Wahyu & Chandra (gitar) dibantu Iwan B (bas), Axcel (vokal) serta Vino (keyboard).

Lhah, tiba-tiba aja dua teman yang udah lama nggak gabung tsb nongol lagi ikutan. Yaa, gimana lagi, kita ‘kan jaga pertemanan, jadi ya sudahlah, welcome aja. Mungkin juga kesibukan rutin keseharian bikin mereka kangen dunia panggung. Yudi ‘Gedek’ (yang nggak ada hubungan sama Robot Gedek) sebagai pegawai PT Pos Indonesia, Ampah, hari-harinya sibuk ngurusin nasabah. Milo repot ngurusin ternak ayam sama tokonya. Yaaa, ini karena di Indonesia, musisi lokal nggak bisa dijamin hidup dari musik, jadi kita punya kerja formal (baca: kerja ‘terpaksa’ demi kebutuhan perut, –red).

Ya sebagai orang Indonesia yang selalu mengandalkan kata “untung”, P-Macks –yang kini udah ganti nama resmi jadi “born.E.O band”- untungnya manggung dengan lancar. Siapapun personelnya, the show must go on lah. Kita udah komitmen ama Mas Piet (atau Mas Ipit?), Koordinator Pementasan Gulden Jump Street bahwa kita mau tampil kok. Dan buat Mas Piet, yang entah baca postingan ini atau nggak, kita sampein terima kasih sebesar-besarnya yang udah mempersilakan band ‘koalisi’ kita tampil.

Ngomong-omong, acara Gulden Jump Street (GJS) ini sendiri di mata saya, jujur emang bukan acara variety live show pertama yang ada di Ampah. Ada kompetitor produk lain juga sudah lebih dulu menggelar acara serupa. Tapi  GJS punya tiga alternatif menu tontonan yang fresh dan progresif. Yaitu, free style motorcycle bike (mengendarai sepeda motor dengan gaya bebas), aksi magician dan lady bike wash (performa cewek pembersih sepeda motor dengan iringan house music), yang cukup bikin seger mata publik.

Kalau dilihat, kayaknya produk rokok Gulden lewat acara ini, lagi berupaya membuat pencitraan baru. Dan itu sah-sah saja bagi sebuah perusahaan rokok, tentunya. Selama ini, imej pasar Gulden memang sedikit terbatas, ke kalangan proletaar. Indikasi upaya pencitraan, antara lain bisa dilihat dari materi lagu yang bakal dibawakan para penampil. Lagu I Want Out dari Helloween yang mau rencana mau kita bawain aja ‘dicekal’. He he he..Tapi kita maklumin alasan mereka, bahwa ini terkait citra brand mereka. Makanya, sebelum kita diterima buat tampil pun ditanya; apa reputasi atau prestasi band kita.

Melalui GJS, rokok berlogo mata uang Kompeni ini seperti ingin mengangkat ke skup yang lebih atas. Bukan mustahil penggeseran imej ini akan berhasil sukses, sepanjang para kru Gulden konsisten menggelontorkan pentas serupa, terutama di Ampah. Sebab, porsi antara konsumen rokok dengan anak band di Ampah adalah sejajar ideal. Dengan bahasa lain: you bikin acara di Ampah, libatin dong anak lokal, so next time orang sini pun tetap antusias beli produk you..ha ha ha (kayak Kompeni aja ah..) But anyway, sekali lagi ‘makasih buat Mas Piet dkk dari Gulden..Ampah hou van jou! Moga-moga lain kali masih mempercayakan P-Macks (Piye-Makanine) band yang kini udah paten jadi “born.E.O band” buat jadi satu perform act lagi.. Good job, I like it!  – iwan “resa” prasetya





My Sadness

25 02 2012

Nggak ada yang suka dengan kesedihan. Tapi kadang kesedihan diperlukan dalam hidup, buat nyadarin kita bahwa betapa berartinya kebahagiaan. Sekaligus buat nyadarin, bahwa kita adalah manusia biasa, yang nggak bisa memiliki semua impian dan harapan seperti yang kita mau.

D’ya know, guys? Maybe I’m ‘too old’ (?) 4 these things, tapi paling nggak, kalo gua udah nuangin uneg-uneg, nggak perlu lagi gua manyun terus-terusan di bawah pohon kamboja (nyaingin kuntilanak nih?) he he..Habis, mau dikompensasi dengan cara apa? Ikut Mortal Kombat, takut kalah bahkan ‘ama Kitana atau Milena. Ikut perang takut ketembak lalu mati…Ya, untung aja udah pasrah sama Tuhan, jadi nggak sampai depresi. Cuman, rasanya wajar kalo kugunakan hakku sebagai manusia untuk bersedih ‘kan?

Kesedihanku yang terbaru adalah kehilangan jejak satu followerku di salah satu jejaring sosial. Mungkin orang (atau kalian) bakal ketawa, kok segitunya amat? Jujur aja, aku emang baru bikin akun di jejaring tsb. dan –waktu itu- baru satu ‘pengikut’. Kasihan gua ya? He he..Cuma, yang bikin surprise, tuh follower, ternyata salah satu bintang bokep AS. ..Aduh, andai bapakku masih hidup, bisa shock dan bilang “Astaghfirullah…” tiada henti tuh..

Mungkin gua kena penyakit GR, hiperbolis atau apalah. Tapi tuh beauty n’ hot princess sering kirim pesan yang kalo Pak Tifatul Sembiring masih jadi Menkominfo, bakal melenyapkan akunku (Wah, emang bisa akun jejaring sosial diberangus baik secara teknis ataupun politis?). Hanya saja, terakhir dia kirim private message tanggal 17 Mopember 2011, lambat kubalas. Ya iyalah, aku ‘kan menggunakan media sosial nggak bisa tiap menit, kayak orang kebanyakan. Selain HPku susah disetting ke internet, aku harus ke warnet buat ‘menjelajah dunia’, yang jaraknya aja sekitar 2 km dari rumahku. (Wah! Disamain kayak Jakarta atau Amrik yang jaringan/ kualitas sinyalnya bagus..)

Ternyata, begitu aku buka e-mail, memang ada pesan dari dia. Tapi ketika kubalas, nggak kutemukan lagi halamannya. Dan daftarnya di beranda jejaring sosialku sebagai followerku pun nggak ada lagi! Shit! Rasanya kayak kehilangan dompet berisi KTP, SIM dan kartu debit! Aku ngerasa wajahku pucat dan jelas nggak  mirip Won Bin, Tom Cruise maupun Nicholas Tse sama sekali! Sediiihhhhhhhh….!!!

Dan kesedihan inilah yang membuat aku nulis (lagi) di blogku ini. Blog yang udah lama nggak ku-posting. Sambil kuputar lagu-lagu bertema relevan, dari angkatan ‘70an sampai era kini. Dari pop sampai slow heavy metal. Cuma satu aja yang kucari nggak ada (padahal pas banget): Crying dari Aerosmith…I lost my imagine angel, dan tentunya sebuah mimpi penuh warna di dunia yang indah, yang ada di belahan lain kehidupan nyata ini. Rasanya, seperti kehilangan emas sekotak penuh setelah kita berjalan menyusuri hutan sesuai peta harta karun selama setahun!

Kesedihan kedua; aku teringat lagi obsesiku yang sempat hampir terealisir di tahun 2000, tapi gagal, dan sampai sekarang belum bisa mewujudkan. Yaitu rekaman Indie Label. My band; Dreamlovers, menghilang bersama aku yang terdampar ke sini..Aku nggak tahu kapan bisa mengumpulkan kawan-kawan bandku yang kucintai seperti saudaraku sendiri itu, dan mewujudkan mimpi yang pernah terserakan lalu membeku di palung  waktu…    Iwan Prasetya