MARAK INFO DANA HIBAH; PENIPUAN ATAU SUNGGUHAN?

15 11 2013

Beberapa teman –termasuk saya—menjadi malas saat mengetik kata “Dana Hibah” di mesin pencarian Google. Pasalnya, sudah beberapa kali membuka blog hasil temuan ‘Googling’, yang katanya menyediakan dana hibah, ujung-ujungnya malah minta duit ke kita. Ya alasan untuk administrasilah, untuk infaqkah…dan lain-lain.
Cuma, dalam hati harus saya akui, pembuat konten blog ini sungguh cerdas & paham benar psiko-sosial orang Indonesia kebanyakan. Yang mau duit banyak, dengan cara relatif mudah. (Ya, termasuk saya juga sih..) Orang-orang dengan harapan besar bagaikan membentangkan mimpi inilah yang jadi sasaran empuk mereka. Termasuk yang lagi marak beberapa waktu ini adalah ‘orang-orang asing’ yang mengaku sebagai penyedia dana kredit lunak, mempublikasikan produk layanan mereka di berbagai blog orang atau e-mail.
Kalau dipikir lucu juga sih, kenapa kita kadang nggak kritis, berpikir kalau memang mereka lembaga keuangan yang bonafit semestinya mempunyai website yang bagus, plus alamat yang jelas? Saya pernah mentest dua kali, niatnya mencoba saja, betul tidak mereka ini penyedia kredit. Kalau memang benar, tentu potongan administrasi akan dilakukan ketika kita menerima uang yang kita ajukan, sebagaimana yang terjadi saat pencairan kredit di bank. Bukannya malah diminta duluan.
Dua kali mencoba, dua kali itu pula ujung-ujungnya berjawaban sama. Minta dana administrasi. Saya cuma jawab ke mereka; “I’m really sorry, that I’m so poor. I can’t send you anymoney. But if you’re agree, you can take from my credit. Even it’s bigger than usual” (Maaf saya begitu miskin. Saya tak dapat mengirim uang. Tapi jika Anda setuju, Anda dapat mengambilnya dari kredit saya. Bahkan kalaupun lebih besar daripada biasanya)..Dan..hop! seperti kata Andre Taulany : “lo – gue – end!” Tiap email dari mereka tak lagi saya buka. Rasanya tak berlebihan kalau saya masukkan saja ke ‘keranjang sampah’
Memang tak semua bermaksud menipu. Ada juga blog atau website yang jujur, namun ternyata persyaratan untuk mencairkan dana tersebut sungguh tak mudah. Memang bisa dipahami, bahwa mereka sebagai penyalur dana, harus mempertanggungjawabkan secara administratif dan akurat kepada pihak penyalur. Karena para pendonatur tentunya tak ingin salah sasaran dan administrasi bisa direkayasa sedemikian rupa. Moga-moga tak sampai ada cap jelek kalau orang Indonesia banyak yang pintar hal semacam ini…he he..
Ada lagi pengelola blog berisi informasi adanya dana hibah plus sumbernya, yang siap memberikan info lengkap pada kita. Namun (sayangnya), minta ‘ditebus’ dengan harga “sekian sekian sekian”..Lhah? Ujung-ujungnya duit juga, meski masih banyak yang dalam kategori wajar. Ya, saya juga positive thinking ajalah, siapa tahu mereka meminta uang ‘tebusan’ tersebut untuk membiayai lembaga-lembaga sosial atau apalah. Kalaupun info yang mereka berikan memang valid, apalah arti uang Rp 50.000 atau Rp 100.000 dibanding manfaat (baca: dana) yang akan kita peroleh?
Seorang sahabat lama dari Purwokerto, Jawa Tengah, waktu berkunjung ke rumah saya (di Kalimantan Tengah) ini, memberikan informasi juga, bahwa ia sempat bertemu dengan seorang pengusaha dari Arab Saudi di sebuah acara keagamaan. Kebetulan, Wan Arab itu datang secara khusus untuk memberikan sumbangan. Dalam Bhs Inggris yang fasih, sang businessman dari Arab Saudi tersebut mengatakan bahwa ia mengharapkan adanya transparansi laporan dari lembaga yang disumbangkannya. Berapa yang sudah disalurkan, siapa saja, untuk keperluan apa dan sebagainya.
“Supaya saya puas, bahwa apa yang saya berikan punya kemaslahatan untuk orang banyak, untuk umat. Bukan untuk –maaf—disalahgunakan oleh oknum demi kepentingan kelompok atau prbadi. Tiap tahun, saya menyisihkan dari keuntungan usaha saya sebesar 35 %-nya. Saya tak mau mengatakan berapa nilainya, itu biar hanya Allah yang tahu. Namun yang jelas, Insya Allah bisa digunakan untuk membangun sebuah masjid atau sekolahan di Indonesia ini,” tutur sang dermawan.
Jelas, bahwa sebenarnya dana hibah itu memang ada. Namun persoalan take and give dalam hal dana hibah, memang tak mudah. Yang salah bukan hanya mereka yang mengaku bisa memberikan dana hibah. Kita sebagai –katakanlah- ‘konsumen’ pun dituntut untuk kritis. Mampu memilah, mana yang bonafid & bisa memberikan dana tersebut, mana yang hanya sekadar ‘abal-abal’…Jadi, meminjam istilah tokoh Bang Napi di salah satu teve swasta dulu: “Waspadalah! Waspadalah!”….**

Iklan




BEKERJA (SAMPINGAN) UNTUK ALLAH

31 08 2013

logo AllahKata orang, life’s begin at fourty. Hidup (sesungguhnya) bermula dari usia 40 tahun. Dan sekarang, mau nggak mau, saya udah bukan anak muda lagi.Tapi kalo pria muda, mungkin masih iya..ha ha.. Ya, seenggak-enggaknya memang harus ada yang berubah, entah di sisi mana dulu. Yang jelas, menuju hal yang positiflah.
Secara nggak sengaja, pas lagi merenung, kepikir juga kalo selama ini saya selalu penginnya kerja, dapat gaji yang gedhe. Ya, wajar sih. Siapa yang pengin ‘gitu? Paris Hilton yang dari lahir sudah jadi orang tajir aja masih ngembangin bisnis sendiri. Masih nyari tambahan buat pundi-pundi hartanya. Padahal kurang apa? Apalagi kok saya yang hidupnya sederhana. Jelas; nggak ada alasan buat stagnan. Saya pun jadi berpikir mencari jalur lain selain usaha yang saya tekuni di bisnis media cetak (lokal, kecil-kecilan lagi..)
Tiba-tiba, sebuah ide terlintas. Bukan ide murni sebenarnya, karena saya pernah membaca bahwa bekerja untuk Allah SWT, maka Allah akan memberi kita ‘gaji’ yang tiada ternilai besarnya. Tentu dalam pengertian bukan seperti kita bekerja dalam sebuah lembaga, di mana digaji rutin per bulan, tepat tanggal sekian sekian sekian. Konsep ini tentu harus dijabarkan lebih luas, filosofis dan mungkin sedikit sufis. Tapi saya mencoba melaksanakan dalam batasan yang sebatas pemahaman saya saja. Yaitu, “Ya udah aja, do it as soon as possible”. Kerjakan sesegera mungkin. Bukan udah minta duit, minta sun sama sambel.!
Intinya; saya juga ingin bekerja untuk Tuhan, Allah. Dan biar Dia yang menggaji saya, karena toh Dia Maha Kaya, Maha Punya..Kalau manusia punya standar gaji, Tuhan apalagi. Tentu jauh lebih gede nilainya. Tapi jangan terjebak ke nilai materialnya dong, Bos… Let’s God watch us, how we work. Jadi, bekerja sajalah untuk Dia tanpa repot mikir sallary nya, wong Dia Maha Mengerti berapa yang layak untuk kerjaan kita.
Pertanyaannya; kerja apa? Sebagai ustad, penceramah atau pengajar agama saya jelas nggak bisa. Baca huruf Hijaiyyah aja masih payah. Ikut Ponpes ya nggak pernah, ikut majelis dulu malah sering absen ditinggal main ke TimeZone,..aduhh..Akhirnya, ya udahlah…. Saya akan bekerja untuk Dia dalam kapasitas saya sebagai penulis, pewara atau penyebar informasi, menyampaikan risalah pesan-pesan agama dalam kemasan yang saya bisa. Kemasan yang catchy ajalah, supaya saya dan yang baca tulisan saya nggak mumet. (Lagian memang ilmu agama saya dangkal!)
Misinya adalah menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam agama, supaya setidaknya orang ngeliat, ngebaca, ..Syukur-syukur ngerti atau memahami. Walaupun hanya satu kalimat atau malah kata. Bukankah “Sampaikanlah walau satu ayat saja?”
Saya memilih menjadi Public Relation (PR), humas, buat Tuhan. Kebetulan dulu juga pernah sih ngimpi jadi seorang PR. Keren juga kayaknya. PR ‘kan merepresentasikan isntitusi di mana dia bekerja. Seorang PR hotel berbintang, tentu dia akan bersikap dan bertutur seelegan mungkin untuk memberikan citra bagaimana hotel tempat dia bekerja. Cuma sayang, sekarang istilah “PR” atau “Purel”, punya konotasi cenderung miring, sehubungan di pub atau klab malam pun memakai istilah ini buat cewek-ceweknya, yang kerjanya nememin tamu.
Menjadi PR Allah. He’s my biggest Boss. Tentunya saya harus menggambarkan nilaiNya sebaik mungkin, walaupun memang Dia adalah sumber segala kebaikan. Dan lewat postingan ini saya mencoba untuk memulai job saya. Misi saya di sini, sekarang, sederhana saja. Nyampein ke lu, kamu, ente, sampeyan, Anda,….mas and mbak bro rahimatulullah….ini lho, job sampingan saya sekarang, yang orientasinya (nyoba) nggak sebatas duniawi lagi. Kalo boleh sih mau ngajak rekan blogger sekalian; yuk kita luangkan waktu lagi, meski sedikit, untuk berbuat lebih bagi Tuhan.
logo Allah