Yang Tak Terkatakan

5 08 2014

Oleh : Iwan Prasetya

 

Ovan mengakhiri lantunan lagu Real To Me-nya Brian Mac Fadden dengan sukses, meski tak diiringi kawan-kawan bandnya lagi dan hanya berteman gitar akustik saja. Tapi setidak-tidaknya, para audiens yang menyaksikan penampilan tunggalnya di acara musik bulanan auditorium kampus ini, sangat puas. Suara tepuk tangan riuh terdengar, juga suitan sesekali, merespon aksi solo Ovan.

Trims bwangggett Oven eh Ovan! Aduuhh keren banget lagunya, Hepy ampe pipis deh..Eh, sorry! Maksudnya sampai terharuu ‘gituuu..” Hepy, MC cowok acara malam ini, dengan gaya centilnya, bertepuk tangan maju ke panggung. Ditepuknya lengan Ovan, tapi dengan gesit, Ovan menangkis memakai gaya Pencak Silat.

“Bukan mukrim, Py! Jangan pegang-pegang gua!” celetuk  Ovan.

Turun dari panggung permanen balaiarung universitas, Ovan disambut Pengky, salah satu kawan akrabnya. “Sip, Van. Sip. Sukses, lu pasti rekaman ‘ntar. Nggak rekaman lagu, rekaman lawak dulu deh!” ucap Pengky. Ovan membalas jabat tangan kawannya ini. Namun ia mencium bau aneh dari mulut Pengky.

Lu minum, Peng?”  tanya Ovan. Ditepuknya mulut Pengky. Cowok jangkung bermata sipit itu terkejut, memegangi mulutnya. “Jaman udah serba digital kayak gini, masih aja suka minum-minum. Kuno lu! Norak!”

“Abis, gak pe-de kalo gak minum, Van.”

“Payah lu, pantesan kuliah ngulang terus dari tahun lalu…Udah deh, lu kalo mau ‘gitu-‘gitu, jauh-jauh dulu. Ke dalam kawah kek, ke kamar mayat kek….Eh, lu ngapain ke sini?”

“Ada teman kita, angkatan tahun ini, mau kenalan. Dia teman sekampung gua, dari Kecamatan Kertosono”

“Dari kecamatan aja belagu  pake “ lu-gue lu-gue”. Logat tetep aja keliatan lu, ah!”

“Jangan ngeledek dulu. Belum tahu sih ada barang kualitas eksport. Uuuh, aktris Mandarin Gillian Chung aja lewat!”

“Ya, lewat depan apartemennya! Udah deh, ayo,”  Ovan menyeret lengan Pengky. Biar menyebalkan, bagaimanapun juga Pengky sudah memberikannya fans pertama sepanjang karirnya jadi anak band. Lumayan..

Walaupun si Pengky termasuk ‘kacau’ lantaran doyan mabuk, tapi omongannya bisa dijamin juga. Nyatanya, kawan sekampung yang dikenalkan ke Ovan cantik juga. Sama Chinese-nya kayak Pengky, cuma beda aliran! Si Pengky aliran ‘sesat’, cewek ini aliran lurus, pastinya. He he he..

“Annie,” ia menyebutkan nama diiringi senyum yang membuat Ovan sungguh kepincut. Bibirnya merah alami, mungil merekah membentuk dua sudut ke kiri kanan atas. Matanya tidak sesipit Pengky. Bahkan agak bulat indah, jernih.

Heh!  Dia nyebut nama tuh!” Pengky menepuk lengan Ovan, membuyarkan lamunan cowok itu.

Eh, anu.…RM Sudrajat Heri Suwito Nyuwunpangapuro. Panggil aja Ovan..he he,” Ovan cengengesan. Sejenak ia menyeret Pengky agak ke pinggir. Dibisikinya cowok yang kurus berkepala botak itu. “Peng, daripada gua lagi pe-de-ka-te ama Annie lu gangguin, lu ambil sepeda motor gua gih. Lu pake deh sepuasnya. Kalo perlu besok baru kembali. Nih kunci motornya”

Waduh, diusir secara halus gua..” sungut Pengky. Toh dia beranjak juga ketika Ovan menyuapnya dengan uang dua puluh ribuan. Dasar cowok murahan ya?

“Suara kamu keren. Pasti kamu biasa manggung ya?” tanya Annie.

Ah, nggak juga. Banyak latihan, malah. Job manggungnya yang jarang,” jawab Ovan jujur. Annie tertawa .

“Kamu orangnya polos ya?”

“Kamu orangnya manis ya?”

“Bisa aja deh Ovan nih

“Bisa-bisa dikit aja kok

Ih, kamu tuh lucu ya?”

“Belum 100 % ‘kali, lucunya. Kalo udah full, pasti banyakan job nglawaknya daripada job nyanyinya”

Annie tertawa. Ovan suka sekali melihat ketawa renyah Annie yang kalau diibaratkan mirip krupuk yang fresh dan nggak melempem ini.

 

———-*

 

 

Mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi dan Dasar-dasar Manajemen, ternyata diambil Annie juga. Jadinya, mereka bisa ketemuan. Tentu ini jadi peluang bagi Ovan untuk melancarkan strategi mengambil hati Annie. Dari mulai memberi materi hasil download, sampai mencuri-curi memberi jawaban saat tes, dilakukannya demi cewek manis habis berpenampilan anggun itu.

Kadang, kalau kondisi keuangan Ovan sedang tebal dan memungkinkan memberi tips, ia memakai jasa Pengky untuk berpura-pura menanyakan Ovan pada Annie lalu menceritakan kebaikan cowok itu. Dasar Pengky matre, sepanjang ada upah lelahnya, ia akan bersemangat untuk mempromosikan Ovan. Perbendaharaan kata-katanya akan sangat luas, seolah tak habis-habis. Tapi jika tidak, pada saat Ovan mengalami krisis, maka ‘materi promo’nya akan sangat terbatas.

Cuma, kalau diprediksi secara serampangan, kans Ovan sangat besar. Terbukti kalau ada pentas musik di kampus atau di luar, sepanjang Ovan dan band barunya di kampus tampil, Annie selalu antusias saat diajak.  Dan entah apa yang membuat Ovan jadi berani, suatu malam, ia nekad menggandeng Annie usai manggung di konser amal kampus. Alhamdulillah, Annie tak marah tuh. Ia hanya tersenyum-senyum, membuat Ovan jadi makin melambung.

“Hati-hati di jalan ya Van? Jangan ngebut,” pesan Annie saat Ovan mengantarkannya pulang ke kos-kosan.

“Ya iyalah, di sepanjang jalan ini aja ada tulisan:” Awas, banyak anak kecil. Kecepatan maksimal 15 km/ jam”. ‘Gimana aku bisa ngebut, An?” canda Ovan. Annie tertawa mencubit pinggang Ovan.

 

*

 

Ini malam minggu. Tadi anak-anak band ngajakin latihan. Tapi Ovan dengan tegas, santun dan tidak sombong menolak. “Sorry, guys. Besok aja deh. Malam minggu khusus acara privacy. Dengan sangat terpaksa, gua menolak dulu. Maap yak?..Gua ada date nih ama Annie. He he he..Yak? Yak?” Ovan tertawa-tawa sambil mengangkat-angkat kedua alis matanya.

Semprul.. ‘Ndak mau ngerasain pahitnya ngejomblo bareng-bareng. Kusumpahi kena kutukan Ken Arok kau!”  omel Arik, pencabik bas.

Eh kupret, Ken Arok mah gak pernah ngeluarin sumpah! Yang nyumpah itu Mpu Gandring! Lagian, udah out to date begitu Kerajaan Kediri tamat, Rik. Yang ada sekarang di sono pabrik rokok! Lu baca sejarah ‘gak sih? He he..see you, guys!” Ovan tertawa ngakak, lalu cabut dengan sepeda motornya.

Gua sumpahin kena kutukan Kurt Cobain deh!” ralat Arik, sekenanya. Tapi Ovan tak mendengar. Ia terus memacu sepeda motornya menuju rumah kos Annie. Ini bakalan jadi apel resmi pertamanya, paska ia menggandeng Annie tempo hari!

Sampai di depan rumah kos Annie, Ovan memarkir sepeda motor matiknya tepat di depan gerbang kos. Di situ ada pula sebuah mobil sedan produk terkini dengan warna putih susu. Ovan mengamati. Mobil siapa nih? Pengapel siapa kira-kira? Mungkin Ling Ling atau Fenty yang memang anak orang kaya itu, Ovan mengira-ngira.

Plass! Wajah Ovan serasa ditempeli setrikaan, melihat di kursi tamu beranda depan, nampak Annie duduk menemui seorang lelaki berkacamata berdandan rapi macam seorang eksekutif.

“Van! Sini, sini..” Annie tersenyum gembira melihat Ovan. Ia melambaikan tangan ke cowok itu. Membaca ekspresi Annie, Ovan lantas menafsirkan bahwa yanga ada di depan matanya mungkin tak seburuk sangkaannya. Bisa jadi laki-laki muda itu kakak atau saudara Annie.

Melihat Ovan terbengong-bengong, Annie berlari menghampiri dan memegang tangan cowok itu. “Sini lho, kamu ini,..Sini aku kenalin,” celoteh Annie riang. “Van, ini Yongky. Yong, ini lho, si Ovan yang sering kuceritakan itu”

Ovan dan cowok itu saling berjabatan serta tersenyum ramah. Annie mempersilakan keduanya duduk. Melihat Annie lebih mendekati dirinya, kepercayaan diri Ovan naik kembali seketika.

“Ya ini yang namanya Ovan, yang bikin aku terhibur terus itu,” Annie tertawa sambil menepuk tangan Ovan. Yongky tersenyum, mengangguk-angguk.

“’Makasih ya Mas Ovan. Annie udah dapat teman yang bisa bikin dia seneng,” ucapnya. Ovan mengangguk.

“Santai, Mas. Omong-omong, Mas Yongky dari mana? Satu daerah juga dengan Annie?” tanya Ovan sok ramah. Yongky, cowok berwajah mirip aktor Leon Lai (kalau dipikir maksa 100 X itu!) tapi tubuhnya gemuk itu, tersenyum dan menggeleng.

Nggak, Mas Ovan. Saya dari Purwodadi. Tapi kebetulan, kami ini masih ada hubungan famili,” jawabnya kalem.

“           Ooh bagus! Bagus itu!” Ovan bersorak girang. Ahai, harapannya semakin jelas.

“Bagus?” Annie & Yongky mengerutkan kening.

Eh, iya..maksudku, ‘kan bagus, masih ada hubungan famili, tetap menjalin silaturahmi. Jadi, nggak pupus garis kekeluargaannya,” ralat Ovan gugup, menyadari keceplosannya. Annie & Yongky tertawa.

“Ya, justru itu yang jadi pertimbangan keluarga kami,” sahut Yongky pelan. Ovan mengernyitkan dahi. Apa maksud cowok ini? Melihat Ovan terbengong, Yongky pun berkata lagi,”Maksud saya, mereka punya ide menjodohkan kami. Kebetulan, saya dan Annie memang sudah dekat dari dia SMP saya SMA. Jadi, sebulan yang lalu, ide itu dilontarkan mereka dan kami pikir, tak ada salahnya juga…”

“Jadi,..” Ovan langsung pucat. Annie nampak terkejut melihat paras cowok seangkatannya ini.

“Van, kamu sakit?” Annie mengulurkan tangan hendak menempelkan ke dahi Ovan. Tapi dengan gaya pendekar menangkis serangan lawan, Ovan melayangkan tangan menolak kehendak Annie. “Ih, kenapa sih kamu?”

“Penyakit maag ku kambuh, An. Aku harus berobat ke dokter Rosi!” Ovan langsung beranjak dari kursi. “Permisi”

“Tapi Van..” terdengar suara Annie. Ovan tak menghiraukan. Ia berjalan makin cepat, tak peduli Annie meneriakinya,.”Dokter Rosi itu dokter kandungan! Kalau kau mau berobat, ke dokter Suryana!”

*

 

 

Ovan menyanyikan bait-bait lagu Annie-nya James Blunt, diiringi gitar akustik dan kepedihan hatinya di atas jok sepeda motor. Dihadapannya terhampar pemandangan kota di waktu malam, bagaikan lautan cahaya dengan jutaan lampu bertebaran menyala. Indah, namun hampa di mata dan hati Ovan saat ini.

“…Down..down, will you go down on me? Cause Annie you’re the star, it’s just not going very far, all the world who know your names, and you’re the famous as you are.  Cause I‘ll sing for you…” sampai lagu berakhir dan Ovan menyelesaikan kocokan gitarnya. Ia tercenung, memandangi pemandangan gemerlapnya kota di bawah bukit ini. Hatinya masih terasa pedih, meratapi harapan yang hilang malam  ini. Ternyata, cinta Annie bukan untuknya. “Kenapa gua harus kenal makhluk yang namanya Pengky? Kenapa Pengky harus mengenalkan Annie? Kenapa Annie harus punya tunangan? Emang kenapa kalau Annie jadi pacar gua? God, gimme the best cure tonight or tomorrow”

Tiba-tiba ponsel Ovan berdering. Sesuatu yang tak ia harapkan di saat kesedihan menyergap seperti saat ini. Namun rasionya berkata, siapa tahu keluarga atau kerabat mengabari sesuatu yang penting. Ovan pun melihat ke layar LCD…Annie!! Antara terkejut campur trauma, Ovan menimbang sesaat. Tapi rasanya tak gentle juga jika dia tak mengangkatnya. Mungkin, ini pula saat yang tepat untuk mengatakan selamat tinggal.

“Van? Kamu baik aja?” terdengar suara lembut Annie. “Ya ampun, kamu bikin aku khawatir..”

“Tuhan, seandainya saja hanya aku yang dia khawatirkan dan ada di hatinya setiap saat..” keluh Ovan lirih.

“Van? Kenapa kamu nggak ngomong?” pertanyaan Annie membuyarkan lamunannya.

Sorry, An. Aku cuma….”

“Cuma apa? Kamu marah ya sama aku?”

Nggak.Aku..hanya kecewa..sama kenyataan”

“Kenyataan apa, Van?”

“Di situ masih ada Yongky?”

Udah pulang, Van. Ayo dong, ngomong. Kalau ini masalah kita, biar cepat selesai. Aku nggak ingin ada masalah di antara kita”

“Kenyataan bahwa…kamu ternyata udah punya seseorang. Sorry  -sekali lagi-, An. Terus terang, aku fall in love ama kamu. Tiap bersama kamu, aku ngerasa tenang dan bersemangat ngadepin apapun. Dan kukira, ada peluang buat aku. Nggak tahunya, harapanku kosong.”

“Van….” Untuk beberapa saat, terdengar Annie terdiam lalu berkata terbata-bata. “Aku tahu itu, sebetulnya. Dan aku merasa tersanjung seseorang yang aku kagumi, menaruh perhatian sama aku. Jujur aja, aku juga suka kamu, meski aku belum yakin benar-benar apakah ini cinta atau bukan. Dan tiap bersama kamu, aku juga seneng…Tapi, Van, aku sadar bahwa aku nggak bisa mencintai dua orang sekaligus. Aku sudah punya Yongky.  Aku harus konsekuen sama keputusanku, dan kebetulan juga jadi keputusan keluarga kami masing-masing. Maafin aku, Van…”

“Ya. Ya. Maafin aku juga. Udah mencintai kamu,”  Ovan mengangguk, tersenyum pahit.

“Van,..kok sinis ‘gitu sih?

Nggak, An. I’m really sorry for everything

“Van, kita masih tetap bakalan dekat ‘kan?”

Mmm..ya.”

Makasih ya? Aku nggak pengin kamu berubah, Van. Tetaplah jadi Ovan yang aku sukai. Yang periang, yang humoris dan..yang selalu nyanyi buat aku”

“I will.Tapi, An. Boleh aku minta satu hal?”

“Apa? Bilang aja. Kalo aku bisa kabulin, aku kabulin”

“Biarpun ini nggak ada gunanya lagi, tapi aku tetap pengin bilang: Aku sayang kamu,” ucap Ovan dengan nada lembut namun penuh tekanan. Tak ada suara Annie sesaat. “Met malam, An. Kamu bobok ya?”

“Ya. Bye, Van,” Annie menyahut, tetap lembut dan syahdu seperti biasa. Dan Ovan tak tahu, bahwa di kamarnya, Annie tengah mengusap air mata. Dipandanginya foto dirinya bersama Ovan yang dijepret dari HP. Tak ia pungkiri bahwa ada cinta pula untuk Ovan, yang sayangnya takkan pernah jadi suatu kenyataan lantaran ikatan bersama Yongky sudah lebih dulu ia komitmenkan.

Lagu slow rock lawas dari kelompok Von Grove, Once In A Life Time, terdengar dari radio ponselnya. Annie menyeka air mata, meraih serta mencium benda ini. Di wajahnya terbayang Ovan yang sedang melantunkan lagu tersebut…***

 

TAMAT

 

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: