TANPA VOKALIS = TANPA ‘NYAWA’ (LAGI)?

29 08 2012

 

Mungkin judul di atas nggak berlaku buat ‘dewa’nya gitaris (neospeed metal) dunia, Yngwie Johan Malmsteen. Pergantian para vokalis dari band besutan Yngwie yang juga bernama sama (Yngwie Malmsteen band) itu, sepertinya nggak ngaruh. Ingat aja dari mulai Jeff Scott Soto, Mark Boals, Joe Lynn Turner, Goran Edman dst, tetap membuat pamor Yngwie terus bertahan sampai era hard rock/ heavy metal mulai bergeser di era ’90 ke atas, di mana tren musik alternative-rock/ grunge, industrial rock dll mulai naik ke permukaan.

Tapi harus diakui, vokalis sudah telanjur diindentikkan dengan apa yang disebut icon, imej, dedengkot, atau sebutan apa lagi, bahkan para fansnya menasbihkan mereka sebagai leader, walaupun kenyataannya belum tentu. Contohnya; pimpinan  Dewa (19) adalah Dhani Ahmad Prasetyo, pimpinan Kahitna adalah Yovie Widianto, pimpinan Keris Patih adalah Badai, dan masih banyak contoh lain lagi. Termasuk juga ‘kasus’ Yngwie tadi.

Vokalis memberikan ruh tersendiri bagi sebuah kelompok musik. Mungkin kita nggak bakal seru ngeliat The Rolling Stones tanpa Mick Jagger lagi, atau –generasi sekarang—nikmatin The Changcutters tanpa Tria. Penyanyi dalam sebuah band seolah ditakdirkan menjadi sesuatu yang sangat memberikan sentuhan bagi kelompoknya tersebut. Begitu orang melihat dia, yang kebayang ya itulah bandnya! Makanya, kenapa grup legenda dunia The Beatles nggak mau bertahan lagi setelah John Lennon tertembak mati (oleh fansnya sendiri, Mark David Chapman). Atau di negeri kita, Seurieus meredup paska hengkangnya Candil.

Mari tengok sejarah musik di mana para vokalis sangat memberikan nuansa dan keidentikan bagi bandnya, antara lain: Joe Hahn & Chester Bennington (Linkin Park), Ahmad Albar (God Bless/ Gong 2000), W Axl Rose (Guns N Roses), Amy Lee (Evanescence), dan lain-lain.

Dan kita juga bisa ngebuktiin setidaknya lantaran alasan inilah, beberapa vokalis yang udah keluar atau dikeluarin, masuk lagi ke grup bandnya lantaran begitu dia ‘go’, bandnya langsung ‘dijauhin’ fansnya; Bruce Dickinson (Iron Maiden), Vince Neil (Motley Crue), Minoru Niihara (Loudness), Krisyanto (Jamrud) dsb. Atau begitu sang vokalis keluar, kelihatannya sulit buat band tersebut kayak dulu lagi lantaran gak identik lagi. Meskipun, yang ngegantiin, bisa jadi lebih cakep atau lebih cute. Naff yang ditinggal Adi dan Cokelat yang ditinggal Kikan, juga Keris Patih yang ditinggal Sammy bisa jadi contoh sulitnya mencari figur sekuat atau sekarakteris mereka. Coz, mereka itu punya ciri khas sendiri dan mampu memberikan ‘nyawa’ bagi grup bandnya.

Jadi, begitu terlontar kata “lo-gue-..end!” antara sang vokalis sama bandnya, maka bisa jadi yang terbentang selanjutnya adalah sebuah pertaruhan imej, yang nggak bakal sembarang musisi bisa kuat nyandang, kalo gak ada kharisma bener-bener kuat pada pemain lain di band tersebut. Semisal; begitu Peter Gabriel pergi dari Genesis, Phil Collins, sang drummer, menggantikannya, ngerangkap tugas sebagai vokal. Dan itu yang akhirnya bikin Phil malah lebur dengan profil Genesis. Atau di negeri kita, cabutnya vokalis pertama Kotak; Pare, malah lebih nanjak saat Tantri masuk ngegantiin dia lantaran punya karakter yang lebih kuat.     iwan p

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: