FISH of FURY (the Plesetan of Chen Cen)

18 08 2011

Pesawat yang kutumpangi dari Jepang, sempat delayed 2 jam lantaran ban pesawat mengalami kerusakan. Ini bikin aku heran, kok kayak kasus bis malam di Pulau Jawa saja? Pihak maskapai akhirnya memberikan keterangan bahwa ban pesawat rusak karena setelah diselidik, bukan terbuat dari karet, tapi dari dodol ketan!

Pesawat mendarat di Bandara Lu Ciu Man (itu nama bandara mungkin lantaran kepergok saat pacaran melakukan kiss-kissan ya? He he..), dua hari kemudian. Sial, ponsel A-Shin, saudara seperguruanku tak aktif begitu aku menghubunginya. Hanya ada suara operator: “Telpon yang Anda tuju, sedang digadai..” Busyet!

Coba kulihat, barangkali ada orang menjemput aku. Ada sebuah kertas karton diangkat orang di atas, aku tersenyum, mungkin untuk aku. Ternyata begitu kubaca, isinya: “Turunkan Nurdin Halid! Bersihkan PSSI!”  Lho? Kok sampai ke sini ya? Rupanya bukan. Aku manyun. Kulihat ada lagi, di sudut sana. Bergegas aku melangkah untuk mendekat dan membaca. Ternyata tulisannya berbunyi “Stop beras impor! Negara agraris, beras kok malah beli?”. Aku jadi bingung, lho ini airport apa lokasi demonstrasi sih?

Untungnya tak sampai beberapa menit kemudian, seorang gadis cantik menghampiriku. “Ko (Kakak) Chen-Cen?” tanyanya. Aku terkejut, mengernyitkan dahi. Kutatap dia. Siapa ya? Rasanya aku kenal…

“Kamu….Barbie Hsu ya? Kok ada di sini?” tanyaku.

“Benar. Saya jadi bintang tamu, sekilas lewat aja di sineblog (sinema blog) ini,” jawabnya.

“Ahh..ya ya..Ni hau ma?” aku tertawa menjabat tangan dan mencium pipinya (mumpung! He he..)

Hau. Si cieh. (Baik. Terima kasih).”

“Barbie, bagaimana kau tahu aku datang di bandara ini? Apa kau diutus A-Shin?”

“Aku diberi peran oleh Mas Iwan Prasetya, yang nulis sineblog ini, untuk menjemput Anda ke bandara. A-Shin sedang mengumpulkan teman-teman Perguruan Ching Wu. Dia..”

“Kenapa? Sibuk sampai tak bisa menjemput aku?”

“Nanti Anda akan tahu. Sekarang kita ke hotel dulu..”

Se-ma?! (Apa?)” aku membelalakkan mata? Ooohhh..rejeki nomplok! Baru ketemu sudah diajak ke hotel..ihik ihik ihikkk…

“Jangan berpikiran mesum dulu. Teman-teman Anda menunggu di Hotel Victoria, karena keadaan di Ching Wu saat ini sedang tidak memungkinkan untuk melakukan pertemuan, ” Barbie tersenyum.

Plusss..malunya aku..Ternyata seperti pepatah : “jauh barbeque daripada api”. Tapi, kenapa dia bilang stuasi di Ching Wu tidak memungkinkan?

“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kita masuk ke taksi dulu. Nanti kau akan tahu jawabnya,” Barbie menggamit tanganku dan melangkah dari tempat ini. Lumayannnn…dapat gandengannn…

***

Beberapa saudara seperguruanku memang sengaja menunggu di satu suite yang ada di hotel mewah ini. Terutama mereka yang paling dekat denganku; A-Shin, Siao Huo dan Vannaz Bo, serta satu-satunya murid utama Perguruan Ching Wu yang wanita; Zhang Zizi! Mereka memelukku erat penuh kerinduan. Padahal aku ya mengharapkan juga Barbie memelukku. Tapi dia malah pamit dengan alasan jatah perannya di sineblog ini sudah habis.

“Chen Cen, sebelumnya kami minta maaf, ada satu hal yang kami sembunyikan. Tapi itu bukan tanpa alasan..” A-Shin menghentikan makannya. Maklum, sudah habis setelah makan tiga piring. Ia menoleh ke arahku yang ada di sebelahnya.

“Serius amat sih? Sineblog ini ‘kan cuma parodi. Santai aja ‘lagi,” tukasku sambil menyuap potongan ayam panggang.

“Jatahku di dialog serius, bro. Begini..sebenarnya..” A-Shin menatap satu per satu wajah kawan kami yang tiba-tiba saja ekspresi wajah mereka jadi murung. Aku meletakkan sumpit dan menatap tajam mereka.

“Ada apa sih?” tanyaku.

“Chen-Cen, empat hari yang lalu itu, kami sengaja tidak memberitahukanmu lantaran kamu sedang UAN alas Ujian Asal Ngerjain ‘kan? Kami tahu kau sudah ikut UAN empat kali berturut-turut gagal terus, jadi kami takut konsenstrasimu buyar,” Vannaz Bo menimpali.

“Sebetulnya….Guru kita, Huo Yan Jia,..meninggal dunia saat itu…” ujar A-Shin lagi. Aku tersentak seperti tersengat listrik 5 watt (lebih dari itu, aku nggak berani!).

“Apa?”

“Kurang ekspresif..sedikit lagi dong..”

“Apa?!!!”

“Ya lumayan….Iya, Guru Huo meninggal…”

“A-Shin, bagaimana mungkin?!!!!”

Busyet! Nyaring bener?” A-Shin dkk terperanjat, terkejut, rupanya volume suaraku kencang benar. Maklum di Jepang dulu, aku pernah dilatih vocal oleh Meniru Nikihama, vokalis grup heavy metal; Loadness.

“Bagaimana mungkin? Guru adalah pendekar tanpa tanding!!”

“Memang sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya”

Ohhhh???”aku menutup mulut dengan tangan terkepal.”Ti-dakkkk..”

***

Aku berlutut, membungkuk hormat tiga kali sebelum memasang yong swa (hio/ dupa batangan) di makam guruku; Huo Yan Jia. Sahabat-sahabatku itu berdiri di sekelilingku.

“Sebelum meninggal, beliau sempat merasa ada yang tak beres dengan dirinya. Dan saat mejelang ronde terakhir bertarung melawan jagoan asal Jepang; Yosaiki Mukarata, guru sempat muntah darah, kami mau panggilkan dokter tapi beliau tolak,” ucap A-Shin pelan,dengan suara parau.

“Kau yang salah panggil! Malah dokter spesialis kandungan yang kau bawa! Dasar tolol!” maki Barbie Hus sewot.

Ssh! Sudah..sudah jangan bertengkar. Kita semua lagi sedih. Nih lihat, handuk yang kubawa saja sampai basah begini buat menyeka air mata,” Siao Huo memeras handuknya.

Aku mengepalkan tinju. Bunyi “krrtkkk..krrpkk..” terdengar. Di sebelah sana, Vannaz meremas beberapa buah krupuk. Rupanya ia yang membuat sound effect pada kepalanku barusan. “Katakan, apa Perkumpulan Petarung Jepang yang disponsori Mafia Naga Hijau yang melakukan ini?” aku bertanya lirih. Kuusap batu nisan almarhum guru kami.

“Jelas. Tapi Mukarata tak terlibat. Dia petarung yang jujur dan menjunjung tinggi sportifitas. Saat pemakaman, dialah satu-satunya petarung Jepang yang datang. Yang lain, alfa. Tapi kita tak punya bukti untuk membawa mereka ke meja polisi,” sahut A-Shin.

“Kematian guru adalah pembuka jalan mulus mereka untuk menguasai persilatan di sini. Dan itu akan membuat mereka juga bebas menjalankan bisnis gelap lantaran tak ada yang menghalangi. Sebab selama ini guru kitalah yang paling keras menentang kesewenangan Mafia Naga Hijau,” imbuh Jacklyn.

“Perkumpulan Petarung Jepang memporakporandakan perguruan kita dua hari kemudian. Tidak dengan cara kasar, tapi memakai polisi dengan alasan bahwa kita sudah mengacaukan tempat usaha mereka,” ujar Siao Huo.

“Dan usai pemakaman guru, aku dan beberapa murid menyerbu Panti Pijat Enake-iki milik Toshiki Kudo, ketua perkumpulan itu. Sayang,….kami kalah bertarung..Selain banyak, mereka memakai beberapa oknum Kamen Raider yang disuap dan pernah disewa juga untuk mengawal Gayus Tambunan,” Vannez menimpali dengan suara lirih.

“Kalau begitu, aku punya cara sendiri untuk mencari bukti. Setidaknya berupa pengakuan,” aku berdiri dari bersimpuhku di samping makam guru. “Vannaz, kau tahu di mana salah satu bisnis terbesar mereka?”

Vannaz Bo tersenyum dan mengangguk.

***

Perusahaan Jasa Keamanan Kudo Secure Corporation. Ini bisnis besar salah satu asset Mafia Naga Hijau, yang kebanyakan mencari ‘klien’ dengan sistem mengancam. Kebanyakan para pemakai jasanya adalah para politisi korup, pengusaha yang punya skandal, selebriti pongah dll. Dengan diantar Vannaz Bo, aku mendatangi perusahaan itu.

Begitu kami keluar dari mobil, dua pria berambut cepak, bertubuh ala binaraga, mendatangi kami. “Kalian ada janji?” tanya mereka dengan nada angkuh.

“Ya. Dengan perawat di rumah sakit, yang akan mengurus kalian opname di sana,” sahutku. Dan secepat kilat tinjuku melayang menghantam perut serta wajah mereka. “Wuu!!” seruku. Keduanya terhuyung. “Wataaa!!” aku meloncat, menyapukan tendangan kanan putar 360 derajat, dan langsung membuat mereka pingsan tanpa ragu-ragu atau malu sedikitpun.

“Vannaz, kau tunggu di mobil saja. Biar aku yang ke dalam,” ucapku. Pemuda berambut sebahu itu mengangguk. Ia kembali ke mobil. Aku melangkah ke dalam bangunan ini, menuju ruang resepsionis.

Seorang wanita muda cantik berwajah ke-indo-an menyambut dengan ramah. Agaknya ia tak tahu kalau penjaga di depan sudah kami kanvaskan. “Selamat datang di kantor kami. Ada yang bisa kami bantu?” sambutnya penuh senyum yang di saat tak seperti ini aku yakin bakal tergoda 200%.

“Tolong katakan pada Tuan Kudo, saya Chen Cen dari Perguruan Ching Wu, datang untuk menemuinya,” aku menjawab, dengan berusaha sewajar mungkin. Sambil mencuri pandang kecantikan wajah dan keelokan bodinya, aku membaca namanya di ID Card: Maria Ozawa.

“Baik, kalau begitu saya akan hubungi beliau. Silakan duduk dulu”

“Terima kasih”

“Aa..Nona Ozawa..”

“Ya Tuan Chen?” ia berbalik dan tersenyum muaanissssss sekali!

“Bagaimana saya bisa duduk?” aku menunjuk sofa. Ada Master Limbad di situ sedang duduk di atas paku-paku runcing! Pemagis yang jarang bicara itu hanya mengerling, mengangkat alis padaku. Seolah berkata,” Apa lu? Berani?”

“Oh maaf, maksud saya, di sebelah situ,” Maria Ozawa menunjuk ke kursi sofa di sebelah kananku. Aku pun duduk di situ. Baru saja beberapa detik aku meletakkan pantat, beberapa lelaki bertampang sangar mendatangiku bersama dua penjaga yang kurobohkan tadi. Aku pun berdiri. Jelas, mereka datang bukan untuk ramah tamah atau main gaple’ bersamaku!

Hei, lekong kurang azar! Ye udah bikin Ik sama temen Ik pingsan ‘bentar tadi! Gak enak banget dipukul..ihhhh..kasur eh kasar banget sih? Ik gak terima nih….Temen-temen bodyguard, yuk kita keroyok bocah ini yuk?”

“Yyyyyukkkk??” jawab teman-temannya yang berwajah sangar namun menjawab dengan gaya kemayu. Aku mengacungkan telunjuk ke wajah mereka satu per satu, sambil menghitung jumlah mereka. Tanganku bergerak melambai menyuruh mereka maju serentak.

Wuaouu!!” aku menyentil hidung, memekik dan berlari kencang meninggalkan ruangan ini. Para tukang pukul itu mengejar. Kami berkejar-kejaran seru. Kadang memakai adegan slow-motion. Sampai akhirnya di luar, di halaman depan gedung ini, aku tendang satu dari mereka. “Wataaa!!

Lelaki berambut cepak yang bertindik paku pinus di hidung itu terjengkang jatuh. Tubuhnya menimpa tanaman-tanaman kaktus yang ada di deretan pot depan gedung. Sebuah tendangan melayang ke arah kepala, aku menangkis. Tendangan bawahku mendepak paha penendangku itu. Ia menjerit, aku menyumpal mulutnya dengan bakpao, lalu menendang dadanya hingga ia terjengkang menyusul temannya tadi.

Tinju dan tendanganku menyambar ke sana kemari, mendera kepala maupun tubuh para bodyguard ini. Ada satu tukang pukul yang KO seketika, kuberi tendangan melayang mengenai samping kepalanya. Temannya menghitung sampai 10, bonus 5 hitungan lagi, ia tetap tak bangun.

Dua tukang pukul berlari menyerbuku, aku meloncat. Tendangan kananku melesat mengenai wajah seorang dari mereka, yang berada di kananku. Yang berada di sebelah kiri, kepalanya kena ayunan tinjuku. Kepalanya langsung benjol sebesar telor ayam. Keduanya ambruk mengaduh-aduh..

“Berhentiiii!!” sebuah suara begitu nyaring, memekakkan telinga, mengejutkan kami  semua yang berkelahi. Begitu lantangnya suara itu sampai semua menutup telinga. Dua buah lampu neon sampai pecah. ( Tapi itu karena ada seorang anak yang memecahkannya dengan sapu, untuk memberikan efek hebat pada suara tadi…)

“Ilmu Suara Halilintar?” aku bertanya dalam hati, karena pernah mendengar ada ilmu silat seperti ini, yang memakai energi suara, dilambari tenaga dalam tingkat tinggi. Namun begitu kutengok, ternyata di pintu masuk bangunan ini, ada seorang lelaki bertubuh pendek kekar, memegang loudspeaker.

“Aaa????!!” kami semua yang semula berkelahi, sama-sama terperanjat. Sialan! Ternyata itu yang membuat suara tadi begitu nyaring.

TO BE NYAMBUNG IN SERI II..He he he..–

Iklan

Aksi

Information

4 responses

22 10 2011
Hairullah

biar lebih keren.. tokoh di cerpen bisa menggnakan jurus kamehameha mas 😀

27 12 2011
iwanresawan prasetya

akai! ha ha ha…

28 10 2011
Abed Saragih

nice info 🙂

kunjungan dan komentar balik ya gan

salam perkenalan dari

http://diketik.wordpress.com

sekalian tukaran link ya…

semoga semuanya sahabat blogger semakin eksis dan berjaya.

27 12 2011
iwanresawan prasetya

thanks, gan! sukses juga! salam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: