INDRA Q; Kembali Garap Ilustrasi Musik Film

2 11 2014

Musisi kreatif yang pernah bergabung di Slank; Indra Qadarsih, mengaku sedang menikmati kembali kesibukannya menggarap ilustrasi musikINDRA !

untuk sebuah film. “Lagi bikin musik untuk film nih, Bro,” katanya saat dihubungi koresponden Pelita Indonesia via telpon seluler, tanpa menyebutkan film apa yang sedang ia garap. Menggarap ilustrasi musik film layar lebar, sebenarnya bukan hal yang baru bagi Indra. Putra pertama tokoh modelling sekaligus aktris film senior Titi Qadarsih ini, di tahun ’90-an juga sempat mengerjakan proyek serupa. “Waktu itu film silat. Judulnya Pendekar..apa? Gua sampe lupa,” ujarnya seraya tertawa saat disambangi di rumah ibunya di bilangan Patal Senayan, Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu. Dan sekarang, di tengah kesenggangan waktunya dengan kelompok BIP, Indra menerima lagi orderan ini. Kreatifitas Indra memang tak pernah berhenti, dengan atau tanpa BIP. Beberapa kali ia menjadi additional musician untuk band-band besar seperti Ungu, Kotak, dll, walaupun jarang sekali tampil lagi di layar kaca. Bahkan bersama rekan sejawatnya; Pay, (yang juga jebolan Slank), Indra memproduseri beberapa band yang cukup berhasil di pasaran. Sebut saja Kotak atau Pee Wee Gaskin. Tangan dingin Indra, seperti yang para penikmat musik ketahui, selalu menghasilkan sound dan tatanan aransemen yang ‘megah’. Dan semoga juga demikian di film yang sedang ia garap ini. (wawancara Iwan Prasetya dengan Indra Q, beberapa hari yang lalu)

foto dari URL https://www.google.com/search?q=Indra+Q&rlz=1C1ASUC_enID612&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ei=OSpWVPiULMahugTyjoLgCw&ved=0CCMQsAQ#facrc=_&imgdii=_&img





Josephine Soegijanty alias JoJo Draven “eks gitaris The Iron Maidens ini Ternyata Wong Jowo!”

8 09 2014

Foto (http://www.blabbermouth.net/news/former-phantom-blue-guitarist-to-perform-with-blue-man-group/)Jojo Draven: Jojo dengan gitar Gibson Les Paul-nya  –>     .

 

Di tahun 1990, ada band Heavy Metal dari Los Angeles bernama Nosferatu. Albumnya,..duh, gua lupa judulnya. Personelnya, bule-bule, jelas gak usah diomongin. Tapi gitarisnya; Cahyo Wisanggeni dan sang vokalis; Agus Lasmono, merupakan orang Indonesia tulen. Iyalah, emang kalian pernah denger bule namanya Cahyo sama Agus?

Waktu gitaris cewek Jennifer Batten ngadain promo radio tour ke Indonesia tahun 1990, kebetulan saya nonton stage act-nya di Radio DMC FM, Jl Raden Saleh, Jakarta Selatan dan denger Jennifer bilang,”I have a student from Indonesia. His name is Cahyo, and now he’s playing for Nosferatu”  Waduh, bangga juga kita orang Indonesia. Saat itu, betapa sulitnya ngenalin Indonesia (kecuali Bali) di mata dunia. Anang (Hermansyah), –waktu itu nggondrong & nggembel–yang sekarang jadi penyanyi kaya di Indonesia, jejingkrakan dapat tandatangannya Jennifer Batten. O ya, kaosnya sampai lusuh, diperlihatkan ke saya sekitar 6 bulan kemudian. Norak ya? he he…

Kalo Cahyo merupakan murid dari gitaris wanita berambut jabrik putih yang jadi gitaris utama band pengiring (alm) Michael Jackson dan dosen di satu institut musik itu, sekarang di era 2000 ke atas ini, lagi-lagi orang Indonesia jadi murid musisi tingkat dunia. Josephine Soegijanty, perempuan asli Surabaya, Jawa Timur merupakan siswi klas gitar murid langsung dari gitaris salah satu band beraliran Thrash Metal terkenal, Testament, yaitu Alex Scolnick.

Jauh sebelumnya, Josephine atau yang akrab dipanggil Jojo, waktu masih di tanah air, belajar piano musik Klasik sebagai basic. Capek main musik klasik, Jojo pindah haluan secara frontal. Ia belajar main gitar dengan aliran Rock! Hingga ia kuliah di Musicians Institute, Hollywood, dan akhirnya jadi murid Alex.

 

Semasa masih bergabung dengan The Iron Maidens. Lihat  wajahnya yang ‘nJawani’ banget di antara Maidens yang lain. (foto sumber:http://www.horror-asylum.com/interview/jojodraven/interview.asp)

JOJO DRAVEN2

———->

 

Di tahun 1996, Jojo menggawangi grup Phantom Blue sebagai gitaris utama. Hingga tahun 2001, ia bergabung di The Iron Maidens dengan nama alias “Adrienne Smith”. Versi plesetan cewek dari Adrian Smith, salah satu gitaris asli Iron Maiden.

Dari sinilah nama Jojo terangkat dan menjadi salah satu musisi cewek yang

banyak disorot media sana. Bisa jadi tampangnya yang khas Indonesia itu ya? Tapi yang jelas, berguru dengan gitaris kelas wahid kayak Alex Scolnick pasti beda kalau berguru dengan Gayus Tambunan…(He he he..Kalau yang ini sih malah diajarin ngemplang pajak..). Artinya, kualitas main gitar Jojo so pasti di atas standar, Ciiinn..Buktinya waktu di Phantom Blue sama di The Iron Maidens, ia nyabet gelar sebagai Gitaris Wanita Terbaik (Best Female Guitarist) di ajang Rock City Awards, selama tiga kali berturut-turut!

Sayang, Jojo akhirnya mengundurkan diri di tahun 2005 lantaran ia memilih menekuni karir sebagai penata musik film. Di profesi barunya ini pun, karir Jojo lumayan cucook, ‘bo! Meski kebanyakan jobnya ya dapat dari sang suami yang sutradara & produser; Danny Draven (Nama Draven sendiri disandang setelah ia married dengan Danny).

Tapi sebenarnya, kiprah Jojo sebagai original score musik film sudah ia coba di tahun 2001, di mana ia menggarap film bioskop Hell Asylum. Sementara karyanya yang lain, ada di film independent label seperti Witches of Carribean (2005) & Ghost Month (2008).   Wah, wah, ngeliat reputasinya yang kayak gini, alamat nggak bakalan balik ke Indonesia ya Jo?   Yo wis, ngko ta’ susul kon!…. iwan p (dari berbagai sumber)

 





Yang Tak Terkatakan

5 08 2014

Oleh : Iwan Prasetya

 

Ovan mengakhiri lantunan lagu Real To Me-nya Brian Mac Fadden dengan sukses, meski tak diiringi kawan-kawan bandnya lagi dan hanya berteman gitar akustik saja. Tapi setidak-tidaknya, para audiens yang menyaksikan penampilan tunggalnya di acara musik bulanan auditorium kampus ini, sangat puas. Suara tepuk tangan riuh terdengar, juga suitan sesekali, merespon aksi solo Ovan.

Trims bwangggett Oven eh Ovan! Aduuhh keren banget lagunya, Hepy ampe pipis deh..Eh, sorry! Maksudnya sampai terharuu ‘gituuu..” Hepy, MC cowok acara malam ini, dengan gaya centilnya, bertepuk tangan maju ke panggung. Ditepuknya lengan Ovan, tapi dengan gesit, Ovan menangkis memakai gaya Pencak Silat.

“Bukan mukrim, Py! Jangan pegang-pegang gua!” celetuk  Ovan.

Turun dari panggung permanen balaiarung universitas, Ovan disambut Pengky, salah satu kawan akrabnya. “Sip, Van. Sip. Sukses, lu pasti rekaman ‘ntar. Nggak rekaman lagu, rekaman lawak dulu deh!” ucap Pengky. Ovan membalas jabat tangan kawannya ini. Namun ia mencium bau aneh dari mulut Pengky.

Lu minum, Peng?”  tanya Ovan. Ditepuknya mulut Pengky. Cowok jangkung bermata sipit itu terkejut, memegangi mulutnya. “Jaman udah serba digital kayak gini, masih aja suka minum-minum. Kuno lu! Norak!”

“Abis, gak pe-de kalo gak minum, Van.”

“Payah lu, pantesan kuliah ngulang terus dari tahun lalu…Udah deh, lu kalo mau ‘gitu-‘gitu, jauh-jauh dulu. Ke dalam kawah kek, ke kamar mayat kek….Eh, lu ngapain ke sini?”

“Ada teman kita, angkatan tahun ini, mau kenalan. Dia teman sekampung gua, dari Kecamatan Kertosono”

“Dari kecamatan aja belagu  pake “ lu-gue lu-gue”. Logat tetep aja keliatan lu, ah!”

“Jangan ngeledek dulu. Belum tahu sih ada barang kualitas eksport. Uuuh, aktris Mandarin Gillian Chung aja lewat!”

“Ya, lewat depan apartemennya! Udah deh, ayo,”  Ovan menyeret lengan Pengky. Biar menyebalkan, bagaimanapun juga Pengky sudah memberikannya fans pertama sepanjang karirnya jadi anak band. Lumayan..

Walaupun si Pengky termasuk ‘kacau’ lantaran doyan mabuk, tapi omongannya bisa dijamin juga. Nyatanya, kawan sekampung yang dikenalkan ke Ovan cantik juga. Sama Chinese-nya kayak Pengky, cuma beda aliran! Si Pengky aliran ‘sesat’, cewek ini aliran lurus, pastinya. He he he..

“Annie,” ia menyebutkan nama diiringi senyum yang membuat Ovan sungguh kepincut. Bibirnya merah alami, mungil merekah membentuk dua sudut ke kiri kanan atas. Matanya tidak sesipit Pengky. Bahkan agak bulat indah, jernih.

Heh!  Dia nyebut nama tuh!” Pengky menepuk lengan Ovan, membuyarkan lamunan cowok itu.

Eh, anu.…RM Sudrajat Heri Suwito Nyuwunpangapuro. Panggil aja Ovan..he he,” Ovan cengengesan. Sejenak ia menyeret Pengky agak ke pinggir. Dibisikinya cowok yang kurus berkepala botak itu. “Peng, daripada gua lagi pe-de-ka-te ama Annie lu gangguin, lu ambil sepeda motor gua gih. Lu pake deh sepuasnya. Kalo perlu besok baru kembali. Nih kunci motornya”

Waduh, diusir secara halus gua..” sungut Pengky. Toh dia beranjak juga ketika Ovan menyuapnya dengan uang dua puluh ribuan. Dasar cowok murahan ya?

“Suara kamu keren. Pasti kamu biasa manggung ya?” tanya Annie.

Ah, nggak juga. Banyak latihan, malah. Job manggungnya yang jarang,” jawab Ovan jujur. Annie tertawa .

“Kamu orangnya polos ya?”

“Kamu orangnya manis ya?”

“Bisa aja deh Ovan nih

“Bisa-bisa dikit aja kok

Ih, kamu tuh lucu ya?”

“Belum 100 % ‘kali, lucunya. Kalo udah full, pasti banyakan job nglawaknya daripada job nyanyinya”

Annie tertawa. Ovan suka sekali melihat ketawa renyah Annie yang kalau diibaratkan mirip krupuk yang fresh dan nggak melempem ini.

 

———-*

 

 

Mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi dan Dasar-dasar Manajemen, ternyata diambil Annie juga. Jadinya, mereka bisa ketemuan. Tentu ini jadi peluang bagi Ovan untuk melancarkan strategi mengambil hati Annie. Dari mulai memberi materi hasil download, sampai mencuri-curi memberi jawaban saat tes, dilakukannya demi cewek manis habis berpenampilan anggun itu.

Kadang, kalau kondisi keuangan Ovan sedang tebal dan memungkinkan memberi tips, ia memakai jasa Pengky untuk berpura-pura menanyakan Ovan pada Annie lalu menceritakan kebaikan cowok itu. Dasar Pengky matre, sepanjang ada upah lelahnya, ia akan bersemangat untuk mempromosikan Ovan. Perbendaharaan kata-katanya akan sangat luas, seolah tak habis-habis. Tapi jika tidak, pada saat Ovan mengalami krisis, maka ‘materi promo’nya akan sangat terbatas.

Cuma, kalau diprediksi secara serampangan, kans Ovan sangat besar. Terbukti kalau ada pentas musik di kampus atau di luar, sepanjang Ovan dan band barunya di kampus tampil, Annie selalu antusias saat diajak.  Dan entah apa yang membuat Ovan jadi berani, suatu malam, ia nekad menggandeng Annie usai manggung di konser amal kampus. Alhamdulillah, Annie tak marah tuh. Ia hanya tersenyum-senyum, membuat Ovan jadi makin melambung.

“Hati-hati di jalan ya Van? Jangan ngebut,” pesan Annie saat Ovan mengantarkannya pulang ke kos-kosan.

“Ya iyalah, di sepanjang jalan ini aja ada tulisan:” Awas, banyak anak kecil. Kecepatan maksimal 15 km/ jam”. ‘Gimana aku bisa ngebut, An?” canda Ovan. Annie tertawa mencubit pinggang Ovan.

 

*

 

Ini malam minggu. Tadi anak-anak band ngajakin latihan. Tapi Ovan dengan tegas, santun dan tidak sombong menolak. “Sorry, guys. Besok aja deh. Malam minggu khusus acara privacy. Dengan sangat terpaksa, gua menolak dulu. Maap yak?..Gua ada date nih ama Annie. He he he..Yak? Yak?” Ovan tertawa-tawa sambil mengangkat-angkat kedua alis matanya.

Semprul.. ‘Ndak mau ngerasain pahitnya ngejomblo bareng-bareng. Kusumpahi kena kutukan Ken Arok kau!”  omel Arik, pencabik bas.

Eh kupret, Ken Arok mah gak pernah ngeluarin sumpah! Yang nyumpah itu Mpu Gandring! Lagian, udah out to date begitu Kerajaan Kediri tamat, Rik. Yang ada sekarang di sono pabrik rokok! Lu baca sejarah ‘gak sih? He he..see you, guys!” Ovan tertawa ngakak, lalu cabut dengan sepeda motornya.

Gua sumpahin kena kutukan Kurt Cobain deh!” ralat Arik, sekenanya. Tapi Ovan tak mendengar. Ia terus memacu sepeda motornya menuju rumah kos Annie. Ini bakalan jadi apel resmi pertamanya, paska ia menggandeng Annie tempo hari!

Sampai di depan rumah kos Annie, Ovan memarkir sepeda motor matiknya tepat di depan gerbang kos. Di situ ada pula sebuah mobil sedan produk terkini dengan warna putih susu. Ovan mengamati. Mobil siapa nih? Pengapel siapa kira-kira? Mungkin Ling Ling atau Fenty yang memang anak orang kaya itu, Ovan mengira-ngira.

Plass! Wajah Ovan serasa ditempeli setrikaan, melihat di kursi tamu beranda depan, nampak Annie duduk menemui seorang lelaki berkacamata berdandan rapi macam seorang eksekutif.

“Van! Sini, sini..” Annie tersenyum gembira melihat Ovan. Ia melambaikan tangan ke cowok itu. Membaca ekspresi Annie, Ovan lantas menafsirkan bahwa yanga ada di depan matanya mungkin tak seburuk sangkaannya. Bisa jadi laki-laki muda itu kakak atau saudara Annie.

Melihat Ovan terbengong-bengong, Annie berlari menghampiri dan memegang tangan cowok itu. “Sini lho, kamu ini,..Sini aku kenalin,” celoteh Annie riang. “Van, ini Yongky. Yong, ini lho, si Ovan yang sering kuceritakan itu”

Ovan dan cowok itu saling berjabatan serta tersenyum ramah. Annie mempersilakan keduanya duduk. Melihat Annie lebih mendekati dirinya, kepercayaan diri Ovan naik kembali seketika.

“Ya ini yang namanya Ovan, yang bikin aku terhibur terus itu,” Annie tertawa sambil menepuk tangan Ovan. Yongky tersenyum, mengangguk-angguk.

“’Makasih ya Mas Ovan. Annie udah dapat teman yang bisa bikin dia seneng,” ucapnya. Ovan mengangguk.

“Santai, Mas. Omong-omong, Mas Yongky dari mana? Satu daerah juga dengan Annie?” tanya Ovan sok ramah. Yongky, cowok berwajah mirip aktor Leon Lai (kalau dipikir maksa 100 X itu!) tapi tubuhnya gemuk itu, tersenyum dan menggeleng.

Nggak, Mas Ovan. Saya dari Purwodadi. Tapi kebetulan, kami ini masih ada hubungan famili,” jawabnya kalem.

“           Ooh bagus! Bagus itu!” Ovan bersorak girang. Ahai, harapannya semakin jelas.

“Bagus?” Annie & Yongky mengerutkan kening.

Eh, iya..maksudku, ‘kan bagus, masih ada hubungan famili, tetap menjalin silaturahmi. Jadi, nggak pupus garis kekeluargaannya,” ralat Ovan gugup, menyadari keceplosannya. Annie & Yongky tertawa.

“Ya, justru itu yang jadi pertimbangan keluarga kami,” sahut Yongky pelan. Ovan mengernyitkan dahi. Apa maksud cowok ini? Melihat Ovan terbengong, Yongky pun berkata lagi,”Maksud saya, mereka punya ide menjodohkan kami. Kebetulan, saya dan Annie memang sudah dekat dari dia SMP saya SMA. Jadi, sebulan yang lalu, ide itu dilontarkan mereka dan kami pikir, tak ada salahnya juga…”

“Jadi,..” Ovan langsung pucat. Annie nampak terkejut melihat paras cowok seangkatannya ini.

“Van, kamu sakit?” Annie mengulurkan tangan hendak menempelkan ke dahi Ovan. Tapi dengan gaya pendekar menangkis serangan lawan, Ovan melayangkan tangan menolak kehendak Annie. “Ih, kenapa sih kamu?”

“Penyakit maag ku kambuh, An. Aku harus berobat ke dokter Rosi!” Ovan langsung beranjak dari kursi. “Permisi”

“Tapi Van..” terdengar suara Annie. Ovan tak menghiraukan. Ia berjalan makin cepat, tak peduli Annie meneriakinya,.”Dokter Rosi itu dokter kandungan! Kalau kau mau berobat, ke dokter Suryana!”

*

 

 

Ovan menyanyikan bait-bait lagu Annie-nya James Blunt, diiringi gitar akustik dan kepedihan hatinya di atas jok sepeda motor. Dihadapannya terhampar pemandangan kota di waktu malam, bagaikan lautan cahaya dengan jutaan lampu bertebaran menyala. Indah, namun hampa di mata dan hati Ovan saat ini.

“…Down..down, will you go down on me? Cause Annie you’re the star, it’s just not going very far, all the world who know your names, and you’re the famous as you are.  Cause I‘ll sing for you…” sampai lagu berakhir dan Ovan menyelesaikan kocokan gitarnya. Ia tercenung, memandangi pemandangan gemerlapnya kota di bawah bukit ini. Hatinya masih terasa pedih, meratapi harapan yang hilang malam  ini. Ternyata, cinta Annie bukan untuknya. “Kenapa gua harus kenal makhluk yang namanya Pengky? Kenapa Pengky harus mengenalkan Annie? Kenapa Annie harus punya tunangan? Emang kenapa kalau Annie jadi pacar gua? God, gimme the best cure tonight or tomorrow”

Tiba-tiba ponsel Ovan berdering. Sesuatu yang tak ia harapkan di saat kesedihan menyergap seperti saat ini. Namun rasionya berkata, siapa tahu keluarga atau kerabat mengabari sesuatu yang penting. Ovan pun melihat ke layar LCD…Annie!! Antara terkejut campur trauma, Ovan menimbang sesaat. Tapi rasanya tak gentle juga jika dia tak mengangkatnya. Mungkin, ini pula saat yang tepat untuk mengatakan selamat tinggal.

“Van? Kamu baik aja?” terdengar suara lembut Annie. “Ya ampun, kamu bikin aku khawatir..”

“Tuhan, seandainya saja hanya aku yang dia khawatirkan dan ada di hatinya setiap saat..” keluh Ovan lirih.

“Van? Kenapa kamu nggak ngomong?” pertanyaan Annie membuyarkan lamunannya.

Sorry, An. Aku cuma….”

“Cuma apa? Kamu marah ya sama aku?”

Nggak.Aku..hanya kecewa..sama kenyataan”

“Kenyataan apa, Van?”

“Di situ masih ada Yongky?”

Udah pulang, Van. Ayo dong, ngomong. Kalau ini masalah kita, biar cepat selesai. Aku nggak ingin ada masalah di antara kita”

“Kenyataan bahwa…kamu ternyata udah punya seseorang. Sorry  -sekali lagi-, An. Terus terang, aku fall in love ama kamu. Tiap bersama kamu, aku ngerasa tenang dan bersemangat ngadepin apapun. Dan kukira, ada peluang buat aku. Nggak tahunya, harapanku kosong.”

“Van….” Untuk beberapa saat, terdengar Annie terdiam lalu berkata terbata-bata. “Aku tahu itu, sebetulnya. Dan aku merasa tersanjung seseorang yang aku kagumi, menaruh perhatian sama aku. Jujur aja, aku juga suka kamu, meski aku belum yakin benar-benar apakah ini cinta atau bukan. Dan tiap bersama kamu, aku juga seneng…Tapi, Van, aku sadar bahwa aku nggak bisa mencintai dua orang sekaligus. Aku sudah punya Yongky.  Aku harus konsekuen sama keputusanku, dan kebetulan juga jadi keputusan keluarga kami masing-masing. Maafin aku, Van…”

“Ya. Ya. Maafin aku juga. Udah mencintai kamu,”  Ovan mengangguk, tersenyum pahit.

“Van,..kok sinis ‘gitu sih?

Nggak, An. I’m really sorry for everything

“Van, kita masih tetap bakalan dekat ‘kan?”

Mmm..ya.”

Makasih ya? Aku nggak pengin kamu berubah, Van. Tetaplah jadi Ovan yang aku sukai. Yang periang, yang humoris dan..yang selalu nyanyi buat aku”

“I will.Tapi, An. Boleh aku minta satu hal?”

“Apa? Bilang aja. Kalo aku bisa kabulin, aku kabulin”

“Biarpun ini nggak ada gunanya lagi, tapi aku tetap pengin bilang: Aku sayang kamu,” ucap Ovan dengan nada lembut namun penuh tekanan. Tak ada suara Annie sesaat. “Met malam, An. Kamu bobok ya?”

“Ya. Bye, Van,” Annie menyahut, tetap lembut dan syahdu seperti biasa. Dan Ovan tak tahu, bahwa di kamarnya, Annie tengah mengusap air mata. Dipandanginya foto dirinya bersama Ovan yang dijepret dari HP. Tak ia pungkiri bahwa ada cinta pula untuk Ovan, yang sayangnya takkan pernah jadi suatu kenyataan lantaran ikatan bersama Yongky sudah lebih dulu ia komitmenkan.

Lagu slow rock lawas dari kelompok Von Grove, Once In A Life Time, terdengar dari radio ponselnya. Annie menyeka air mata, meraih serta mencium benda ini. Di wajahnya terbayang Ovan yang sedang melantunkan lagu tersebut…***

 

TAMAT

 





AKU, MEMORIKU & KAOS KAKI BLUES BAND

22 07 2014

Menapakkan kaki di Bumi Borneo, sejak tahun 2001 dan terpuruk ke jurang percobaan Tuhan yang terasa begitu dalam, dulu..(wiii, pake bahasa yang dramatis ah..), aku sempat berpikir, apakah langkahku untuk terus bermusik juga akan terkubur. Hidup dengan kondisi 360 O yang berbeda dIwan & Ari3ari sebelumnya, membuat aku hampir frustasi. Kerja enak di sebuah kantor majalah di Semarang, karir bandku Dreamlovers yang tinggal selangkah ke dapur rekaman, teman-teman yang berwawasan & asyik, dll,.menjadi seperti sebuah mimpi indah yang lenyap ketika terbangun dari tidur.

Cinta, persahabatan,..adalah persoalan chemistry. Bukan sekadar dekat, lalu jadi. Band pun demikian. Dulu berkali-kali ngeband dengan beberapa teman di beberapa kota di Jateng, atau DKI, ya biasa saja. Main manggung lalu good bye. Tapi baru benar-benar fall in love, dan bisa saling mengisi di Dreamlovers formasi tahun 2000. Mungkin benar, ‘jodoh’ itu tergantung pada siapa & kapan. Soalnya, gitaris & pemain bas Dreamlovers saat itu; Didiet & Bayu, pernah juga ngeband bareng di grup Butterfly (saat mereka masih SMA dan aku putus kuliah kerja di Radio CitraFM-Kendal/ Rasika FM-Ungaran) di mana kebetulan kami menyabet Juara Harapan II A-Mild Music Festival tahun….(Aah, ntar keliatan tuanya. Gak usah disebut deh!)

Bersama adik angkatku; Gunung (keyboard vocal III), Anita (vocal II), Billy (drum), Didiet (guitar) dan Bayu (bass), kami merasa sebagai sebuah keluarga yang saling mengasihi & mendukung. Sampai-sampai pacar Anita pun faham sekali, tiap kali ngantar ceweknya itu, dia selalu pamit pergi lantaran sadar kamilah ‘kekasih’ pertamanya..he he he. Manggung di kampus-kampus, lalu Kafe Kevi di Plasa Simpang Lima/ Matahari Department Store, merupakan pengalaman tak terlupakan bagi kami.

Dan hampir tujuh tahun berjuang dengan kehidupan yang mulai dari titik minus (di bawah nol), aku nyaris depresi karena tak ada kawan pengganti anak-anak Dreamlovers formasi tahun 2000. Otomatis, tak ada yang namanya nyanyi-nyanyi atau main musik. Paling banter didapuk berkaraoke waktu ada acara perpisahan di sekolah tempat aku pernah mengajar.

Pernah sekaliii aku berdiriii, dari Jakartaa ke Surabayaa..lho kok kayak lagu Kereta Malam-nya Bang Haji Rhoma Irama ya?..Maksudku, pernah sekali aku nyoba latihan, diajak teman-teman istriku yang saat itu kerja di sebuah kantor koperasi simpan pinjam..Eeehhh, alirannya alay!..Alaymaakk jadinya..Tapi okelah, gak apa-apa, pengalaman baru; diajak band alay..He he..Toh orangnya baik-baik, dan full sopan santun.

Sampai akhirnya, di tahun 2010, kenal sama ‘insan-insan’ penuh kegilaan di Ampah seperti Wahyu ‘Black’ Atong, Awat, dll dan kami main bersama dengan formasi Wahyu Atong (gitar), Dayat (gitar), Gedek & Awat (dram gantian), dan Kristian ‘Semes’ (bas). Kumpulan ‘anak tua’ yang punya energi pernah tersia-sia. Alirannya; rock & metal lah. Lagu-lagunya God Bless, Boomerang & Helloween.

Tiga kali tampil bersama Awat, Chandra (mengganti Dayat & Wahyu), & Semes, pada akhirnya kami harus vakum lantaran kesibukan para personelnya. Kristian alias Semes, diangkat jadi Bendahara rutin di Badan Kesatuan Bangsa & Perlindungan Masyarakat & Politik (Kesbanglinmaspol) Kab Barito Timur,  Awat agak keteteran dengan tugasnya sebagai Mantri Kesehatan Gigi dan beberapa hal lain, Wahyu –yang bergabung lagi– back to Yogya, Jaro yang sempat gabung ke latihan sebagai keyboardis menggantikan Ritho, sibuk juga sebagai Fasilitator Proyek PNPM Kec Raren Batuah.

Untung di tengah kefrustasian sesaat lantaran beberapa teman ‘ngilang’, komunikasi dengan Ari Buntoro, seorang petugas kepolisian yang pernah ditugaskan sebagai pengamanan di KPU Kab Bartim, terus terjalin. Kami kenal sejak aku direkrut jadi anggota PPK Kec Dusun Tengah sejak PemiluKada 2008. Tapi aku baru tahu bahwa sesungguhnya yang bernama R Ari Buntoro itu seorang pemain musik juga, ketika kami ketemu di satu festival di GPU Mantawara Tamiang Layang 2011. “Asyik juga stage actnya. ‘Ilmu’ gitarnya pun mumpuni..,” kataku dalam hati ngeliat aksi panggung kawanku itu.

2013. Beberapa kali sempat bercanda-canda nge-jam bareng, nggak terduga, suatu hari Ari nelpon aku, minta mengisi posisi vokal lantaran vokalis aslinya pindah tugas ke luar daerah. Saat kutahu alirannya hard rock dengan konsep lagu-lagu legenda, aku langsung OK. Kebetulan, sudah lama sekali aku kangen main lagu-lagu rock klasik. Hanya berselang dua hari dari latihan, kami maju ke satu festival tingkat Kalimantan Selatan & Kalimantan Tengah (Kalselteng) di Buntok, Kab Barito Selatan. O ya, di grup inilah aku ketemu Domy, bintara polisi juga kayak Ari, yang gila musik dan permainan basnya lumayan yahud. Juga dua kawan baru; Din & Edha.

Alhamdulillah, dengan latihan dadakan, Kaos Kaki Blues, band yang ngajak aku ini, menyabet gelar Juara Favorit. Dan seperti dipenuhi faktor luck, meski hanya satu-dua kali latihan, dengan jadwal dadakan; Kaos Kaki Blues hampir selalu menyabet gelar juara. Tapi yang bikin seneng, sebetulnya bukan itu. Kami sama-sama punya visi, ikut di festival bukan melulu tertuju pada soal merebut gelar juara. Tapi ‘meliarkan rasa & jiwa’ rock n’roll kami.

Memang teman-teman di grup baruku ini punya skill musikalitas yang oke. Tapi aku mencoba melihat dari sudut yang lain. Kalo bicara, nyambung. Soal solider & toleran, mereka patut diacungi jempol. Dan lain-lain. Aku inget anak-anak Dreamlovers. Kurang lebih sama seperti ini. So,buat aku, “Welcome, this is your new really life”..Sepertinya, ada beberapa yang ingin aku kontribusikan buat satu-satunya band yang setia dengan konsep rock klasik di Kab Barito Timur ini.

Kalo pun kadang aku diminta main dengan grup lain atau tampil ‘yogya’ alias sendirian. (Gak pake istilah ‘Solo’ ah..), ya nggak main konsep itu. Sekadar fun & menjalin tali silaturahmi dengan kawan lain aja. Buat aku, bermain bersama Kaos Kaki Blues adalah serasa mengembalikan spirit masa ABGku. Seperti menapakkan kaki pada jendela masa silam, di mana aku tumbuh besar saat lagu-lagu itu sedang jadi tren. Rasanya selalu romantis…And, I think this life is keep going on, with Kaos Kaki Blues…**

 





ROCKER’S TEARS

2 01 2014

Reportafiksi: Iwan “Resa” Prasetya

rockermanggungTembang cadas milik God Bless; Maret 1989 sebagai lagu pembuka, diiringi letupan kembang api di kanan kiri panggung permanen gedung auditorium kampus ini, sontak seketika meledakkan histeria penonton. Sebuah gerbang besar dimensi waktu ke masa lalu pun seolah terbentang, mengajak mereka untuk masuk ke dalamnya.
Di atas panggung, grup band beraliran rock; Bad Boyz, yang tengah melantunkan lagu legendaris itu, seolah menunjukkan kalau grup yang pernah eksis di Salatiga, Jawa Tengah, tahun 1990-1991 tersebut (khususnya di kalangan sekolah & kampus) masih mempunyai energi rock yang kuat, sekuat saat mereka ABG/ remaja dulu. Dan bermain di hadapan sekitar 700-an penonton yang sebagian besar tumbuh pada era itu, tentu mendatangkan nuansa kenikmatan tersendiri. Headbanging. serta screaming penonton dilengkapi acungan tiga jari, menjadi tanda bahwa antara mereka yang menonton dengan kelima personel Bad Boyz di atas panggung, adalah sebuah senyawa.
Setelah komunikasi pendek dari sang vokalis, Wawan, kepada penonton yang hampir semuanya merupakan eks mahasiswa universitas angkatan ’88 s/d ’98, lagu balada legendaris dari White Lion; You’re All I Need pun terlantun. Di lagu kedua ini, semua penonton melambaikan tangan & bernyanyi bersama. Bahkan beberapa di antaranya berpelukan, mengingat masa lalu kala lagu ini sedang meledak menjadi radio hits di mana-mana.
“Di masa itu, berkali-kali saya harus dengarkan lagu ini sebelum tidur. Sayangnya, cewek yang saya ingin nyanyikan lagu ini tak hanya satu. Bukan lantaran saya playboy atau laris, tapi justru karena sering ditolak,” canda Wawan di awal/ intro lagu.
Kedua lagu tadi, kata Wawan,, merupakan repertoar yang mereka mainkan di sebuah acara pentas musik perayaan kemerdekaan. “Dan di situ, pertama kali pergantian formasi Bad Boys terjadi. Saya yang tadinya vokal, pindah nge-bas. Dan mas Wawan masuk menggantikan posisi saya.” kata Wisnu, pemain bas..
Lagu keempat, mereka memainkan lagu milik Nicky Astria yang mereka buat dalam versi ‘jantan’; Jarum Neraka. Mungkin karena latihan yang terbatas, membuat mereka tak merubah aransemennya, kecuali permainan gitar Hendra yang lebih terasa ke Eet Syahranie, ketimbang versi aslinya yang dimainkan Ian Antono.
Pada lagu kelima, Wawan mempersilakan Wisnu bertindak sebagai penyanyi di lagu Lady, milik Stryper. Wawan ganti bertindak sebagai backing vocal, seraya minum air mineral botol dan merokok. Dan di lagu terakhir, I Remember You, Bad Boyz menghadirkan musisi kampus rekan mereka dulu, Iwan Sadewo alias Hung-Hung.
Sesudah canda-candaan di atas panggung, mereka tampil dalam formasi sedikit berbeda. Mike, sang keyboardist, bermain gitar akustik, pemain drum; Dicky menjadi vokal latar, dan drum dipegang Iwan Sadewa. Sedikit mendemonstrasikan permainan drumnya yang kental berbasic rock, Iwan Sadewo seolah ingin memperlihatkan bahwa dalam komunitas rock yang berkesan sangar, ada juga ‘kaum mata sipit’ seperti dirinya yang juga mampu bermain gahar.
Lagu pamungkas ini, dinyanyikan dengan emosi romantika penuh. Sampai-sampai, semua pemain & penonton yang bernyanyi, tak sedikit yang meneteskan air mata. Terutama ketika lagu tersebut berakhir dalam genjrengan gitar akustik Mike. Wawan, Iwan Sadewo, Mike, Wisnu, Hendra & Dicky berpelukan mengharukan di atas panggung, membuat beberapa pnonton trenyuh. Sesaat tak ada bunyi apapun, hening dalam keharuan mencekam.
“Dua puluh tahun lebih kita berpisah, sekarang reunion, dan nggak tahu lagi kabarnya nanti. Tapi yang pasti, Bad Boyz ada, pernah dan selamanya di hati saya. Bad Boyz adalah band pertama yang mengajarkan pada saya tentang persaudaraan dalam segala perbedaan.. Jauh sebelum kampanye persaudaraan digencarkan di TV untuk menjaga NKRI. Thanks, brothers..I’ll remember you, forever..Dan terima kasih pada panitia reuni alumnus universitas ini dasawarsa 88-98, berkat kalian juga kami bisa kembali berada di sini walau hanya kali ini,” tutur Wawan sambil berusaha tetap tersenyum, walau nada suaranya memperlihatkan keharuan teramat dalam.
Turun dari panggung diiringi tepuk tangan meriah penonton, yang kemudian menyalami atau merangkul mereka, membuat mereka berenam akhirnya memang urung meninggalkan auditorium gedung universitas. Mereka memilih untuk menyimak pula penampilan kawan-kawan dari band lain, yang juga tampil cukup memukau, seperti Blue Candle yang banyak membawakan lagu-lagu Roxette maupun Sinead O’Connor, maupun Synthesa X yang berkiblat ke Scorpions.
Selesai acara, baru mereka jalan-jalan. Jalan betulan, yaitu jalan kaki tak memakai mobil atau angkutan umum. Mengenang lagi masa-masa dulu, menyusuri Pasar Kota, menyusuri kenangan yang masih lekat dalam ingatan….**

(Memory of my neverending campus; Univ Kristen Satya Wacana, Salatiga, 1991, my band BAD BOYZ (me/ Iwan P-vocal, Michael Andrew (Mike)-keyboard, back up vocal, Dicky-drum, Hendra Tan-guitar, Wisnu-bass, vocal II) “I Remember You, when we played this song accoustically in campus cafeteria”, Frans Julius Sihasale, Julius J Lopulissa, Iwan Sadewo (A-Hung), Ari Kacamata, Lukas ‘Ryan Hidayat’, Monica Oey & Niniek Retno “Metal-Girls/ Sebastian Bach Lovers”, sweet angels Elizabeth Jordann, Lina Lie Niang, Anne Hardjani Lugito & Gerda Monica Gullo dll…: ”I’m so sorry, I’m so regret to left you all at that time…! But you’re still in my mind forever, I’ll Remember You!”)





MARAK INFO DANA HIBAH; PENIPUAN ATAU SUNGGUHAN?

15 11 2013

Beberapa teman –termasuk saya—menjadi malas saat mengetik kata “Dana Hibah” di mesin pencarian Google. Pasalnya, sudah beberapa kali membuka blog hasil temuan ‘Googling’, yang katanya menyediakan dana hibah, ujung-ujungnya malah minta duit ke kita. Ya alasan untuk administrasilah, untuk infaqkah…dan lain-lain.
Cuma, dalam hati harus saya akui, pembuat konten blog ini sungguh cerdas & paham benar psiko-sosial orang Indonesia kebanyakan. Yang mau duit banyak, dengan cara relatif mudah. (Ya, termasuk saya juga sih..) Orang-orang dengan harapan besar bagaikan membentangkan mimpi inilah yang jadi sasaran empuk mereka. Termasuk yang lagi marak beberapa waktu ini adalah ‘orang-orang asing’ yang mengaku sebagai penyedia dana kredit lunak, mempublikasikan produk layanan mereka di berbagai blog orang atau e-mail.
Kalau dipikir lucu juga sih, kenapa kita kadang nggak kritis, berpikir kalau memang mereka lembaga keuangan yang bonafit semestinya mempunyai website yang bagus, plus alamat yang jelas? Saya pernah mentest dua kali, niatnya mencoba saja, betul tidak mereka ini penyedia kredit. Kalau memang benar, tentu potongan administrasi akan dilakukan ketika kita menerima uang yang kita ajukan, sebagaimana yang terjadi saat pencairan kredit di bank. Bukannya malah diminta duluan.
Dua kali mencoba, dua kali itu pula ujung-ujungnya berjawaban sama. Minta dana administrasi. Saya cuma jawab ke mereka; “I’m really sorry, that I’m so poor. I can’t send you anymoney. But if you’re agree, you can take from my credit. Even it’s bigger than usual” (Maaf saya begitu miskin. Saya tak dapat mengirim uang. Tapi jika Anda setuju, Anda dapat mengambilnya dari kredit saya. Bahkan kalaupun lebih besar daripada biasanya)..Dan..hop! seperti kata Andre Taulany : “lo – gue – end!” Tiap email dari mereka tak lagi saya buka. Rasanya tak berlebihan kalau saya masukkan saja ke ‘keranjang sampah’
Memang tak semua bermaksud menipu. Ada juga blog atau website yang jujur, namun ternyata persyaratan untuk mencairkan dana tersebut sungguh tak mudah. Memang bisa dipahami, bahwa mereka sebagai penyalur dana, harus mempertanggungjawabkan secara administratif dan akurat kepada pihak penyalur. Karena para pendonatur tentunya tak ingin salah sasaran dan administrasi bisa direkayasa sedemikian rupa. Moga-moga tak sampai ada cap jelek kalau orang Indonesia banyak yang pintar hal semacam ini…he he..
Ada lagi pengelola blog berisi informasi adanya dana hibah plus sumbernya, yang siap memberikan info lengkap pada kita. Namun (sayangnya), minta ‘ditebus’ dengan harga “sekian sekian sekian”..Lhah? Ujung-ujungnya duit juga, meski masih banyak yang dalam kategori wajar. Ya, saya juga positive thinking ajalah, siapa tahu mereka meminta uang ‘tebusan’ tersebut untuk membiayai lembaga-lembaga sosial atau apalah. Kalaupun info yang mereka berikan memang valid, apalah arti uang Rp 50.000 atau Rp 100.000 dibanding manfaat (baca: dana) yang akan kita peroleh?
Seorang sahabat lama dari Purwokerto, Jawa Tengah, waktu berkunjung ke rumah saya (di Kalimantan Tengah) ini, memberikan informasi juga, bahwa ia sempat bertemu dengan seorang pengusaha dari Arab Saudi di sebuah acara keagamaan. Kebetulan, Wan Arab itu datang secara khusus untuk memberikan sumbangan. Dalam Bhs Inggris yang fasih, sang businessman dari Arab Saudi tersebut mengatakan bahwa ia mengharapkan adanya transparansi laporan dari lembaga yang disumbangkannya. Berapa yang sudah disalurkan, siapa saja, untuk keperluan apa dan sebagainya.
“Supaya saya puas, bahwa apa yang saya berikan punya kemaslahatan untuk orang banyak, untuk umat. Bukan untuk –maaf—disalahgunakan oleh oknum demi kepentingan kelompok atau prbadi. Tiap tahun, saya menyisihkan dari keuntungan usaha saya sebesar 35 %-nya. Saya tak mau mengatakan berapa nilainya, itu biar hanya Allah yang tahu. Namun yang jelas, Insya Allah bisa digunakan untuk membangun sebuah masjid atau sekolahan di Indonesia ini,” tutur sang dermawan.
Jelas, bahwa sebenarnya dana hibah itu memang ada. Namun persoalan take and give dalam hal dana hibah, memang tak mudah. Yang salah bukan hanya mereka yang mengaku bisa memberikan dana hibah. Kita sebagai –katakanlah- ‘konsumen’ pun dituntut untuk kritis. Mampu memilah, mana yang bonafid & bisa memberikan dana tersebut, mana yang hanya sekadar ‘abal-abal’…Jadi, meminjam istilah tokoh Bang Napi di salah satu teve swasta dulu: “Waspadalah! Waspadalah!”….**





BEKERJA (SAMPINGAN) UNTUK ALLAH

31 08 2013

logo AllahKata orang, life’s begin at fourty. Hidup (sesungguhnya) bermula dari usia 40 tahun. Dan sekarang, mau nggak mau, saya udah bukan anak muda lagi.Tapi kalo pria muda, mungkin masih iya..ha ha.. Ya, seenggak-enggaknya memang harus ada yang berubah, entah di sisi mana dulu. Yang jelas, menuju hal yang positiflah.
Secara nggak sengaja, pas lagi merenung, kepikir juga kalo selama ini saya selalu penginnya kerja, dapat gaji yang gedhe. Ya, wajar sih. Siapa yang pengin ‘gitu? Paris Hilton yang dari lahir sudah jadi orang tajir aja masih ngembangin bisnis sendiri. Masih nyari tambahan buat pundi-pundi hartanya. Padahal kurang apa? Apalagi kok saya yang hidupnya sederhana. Jelas; nggak ada alasan buat stagnan. Saya pun jadi berpikir mencari jalur lain selain usaha yang saya tekuni di bisnis media cetak (lokal, kecil-kecilan lagi..)
Tiba-tiba, sebuah ide terlintas. Bukan ide murni sebenarnya, karena saya pernah membaca bahwa bekerja untuk Allah SWT, maka Allah akan memberi kita ‘gaji’ yang tiada ternilai besarnya. Tentu dalam pengertian bukan seperti kita bekerja dalam sebuah lembaga, di mana digaji rutin per bulan, tepat tanggal sekian sekian sekian. Konsep ini tentu harus dijabarkan lebih luas, filosofis dan mungkin sedikit sufis. Tapi saya mencoba melaksanakan dalam batasan yang sebatas pemahaman saya saja. Yaitu, “Ya udah aja, do it as soon as possible”. Kerjakan sesegera mungkin. Bukan udah minta duit, minta sun sama sambel.!
Intinya; saya juga ingin bekerja untuk Tuhan, Allah. Dan biar Dia yang menggaji saya, karena toh Dia Maha Kaya, Maha Punya..Kalau manusia punya standar gaji, Tuhan apalagi. Tentu jauh lebih gede nilainya. Tapi jangan terjebak ke nilai materialnya dong, Bos… Let’s God watch us, how we work. Jadi, bekerja sajalah untuk Dia tanpa repot mikir sallary nya, wong Dia Maha Mengerti berapa yang layak untuk kerjaan kita.
Pertanyaannya; kerja apa? Sebagai ustad, penceramah atau pengajar agama saya jelas nggak bisa. Baca huruf Hijaiyyah aja masih payah. Ikut Ponpes ya nggak pernah, ikut majelis dulu malah sering absen ditinggal main ke TimeZone,..aduhh..Akhirnya, ya udahlah…. Saya akan bekerja untuk Dia dalam kapasitas saya sebagai penulis, pewara atau penyebar informasi, menyampaikan risalah pesan-pesan agama dalam kemasan yang saya bisa. Kemasan yang catchy ajalah, supaya saya dan yang baca tulisan saya nggak mumet. (Lagian memang ilmu agama saya dangkal!)
Misinya adalah menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam agama, supaya setidaknya orang ngeliat, ngebaca, ..Syukur-syukur ngerti atau memahami. Walaupun hanya satu kalimat atau malah kata. Bukankah “Sampaikanlah walau satu ayat saja?”
Saya memilih menjadi Public Relation (PR), humas, buat Tuhan. Kebetulan dulu juga pernah sih ngimpi jadi seorang PR. Keren juga kayaknya. PR ‘kan merepresentasikan isntitusi di mana dia bekerja. Seorang PR hotel berbintang, tentu dia akan bersikap dan bertutur seelegan mungkin untuk memberikan citra bagaimana hotel tempat dia bekerja. Cuma sayang, sekarang istilah “PR” atau “Purel”, punya konotasi cenderung miring, sehubungan di pub atau klab malam pun memakai istilah ini buat cewek-ceweknya, yang kerjanya nememin tamu.
Menjadi PR Allah. He’s my biggest Boss. Tentunya saya harus menggambarkan nilaiNya sebaik mungkin, walaupun memang Dia adalah sumber segala kebaikan. Dan lewat postingan ini saya mencoba untuk memulai job saya. Misi saya di sini, sekarang, sederhana saja. Nyampein ke lu, kamu, ente, sampeyan, Anda,….mas and mbak bro rahimatulullah….ini lho, job sampingan saya sekarang, yang orientasinya (nyoba) nggak sebatas duniawi lagi. Kalo boleh sih mau ngajak rekan blogger sekalian; yuk kita luangkan waktu lagi, meski sedikit, untuk berbuat lebih bagi Tuhan.
logo Allah








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.