<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>media-ekspresi</title>
	<atom:link href="http://iwanresa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://iwanresa.wordpress.com</link>
	<description>the heart expression</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Feb 2012 05:32:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='iwanresa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5b9c0e22b2fd3daf133e7fd30da4af47?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>media-ekspresi</title>
		<link>http://iwanresa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://iwanresa.wordpress.com/osd.xml" title="media-ekspresi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://iwanresa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KALO SAYA JADI ANGGOTA DPD RI (KELAK), MUSTI NGAPAIN?</title>
		<link>http://iwanresa.wordpress.com/2011/12/29/kalo-saya-jadi-anggota-dpd-ri-kelak-musti-ngapain/</link>
		<comments>http://iwanresa.wordpress.com/2011/12/29/kalo-saya-jadi-anggota-dpd-ri-kelak-musti-ngapain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 04:07:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwanresa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Cita-cita Membangun Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[DPD RI]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba ngeBlog DPD RI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwanresa.wordpress.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Prasetyo Gumiawan (Iwan Prasetya)   Punya cita-cita setinggi Menara Monas atau Petronas, boleh dong? Dan salah satu obsesi saya, jujur aja, sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI). Tapi namanya saja keinginan. Tercapai ya syukur, nggak tercapai ya udah. Saya tetap asyik mainkan musik (rock) di atas stage. Syukur bisa duet [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iwanresa.wordpress.com&amp;blog=16077436&amp;post=252&amp;subd=iwanresa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><a href="http://iwanresa.files.wordpress.com/2011/12/lomba-dpd1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-257" title="lomba dpd" src="http://iwanresa.files.wordpress.com/2011/12/lomba-dpd1.jpg?w=150&#038;h=97" alt="" width="150" height="97" /></a>Oleh<strong>: Agus Prasetyo Gumiawan (Iwan Prasetya) </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Punya cita-cita setinggi Menara Monas atau Petronas, boleh <em>dong</em>? Dan salah satu obsesi saya, jujur <em>aja, </em>sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI). Tapi namanya saja keinginan. Tercapai ya syukur, <em>nggak</em> tercapai ya <em>udah</em>. Saya tetap asyik mainkan musik (rock) di atas <em>stage. </em>Syukur bisa duet <em>bareng</em> Mike Tramp atau Vina Panduwinata..(<em>He he he..Nih </em>dua orang sungguh idola saya..)</p>
<p>Saya berandai-andai, peran sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atau DPD RI, -akan- menuntut saya untuk lebih banyak turun ke daerah, khususnya di Daerah Pemilihan (Dapil) saya. Sebab di sanalah saya bisa menyerap banyak masukan dari rakyat, tentang apa yang mereka inginkan. Bukan apa yang pemerintah inginkan. Jangan sampai ada gejolak panas macam di Papua (OPM) atau Aceh (GAM). Rakyatlah pembayar pajak di negeri ini, yang seharusnya punya hak untuk menentukan keinginan dari kebutuhannya.</p>
<p>Sistem <em>hearing </em>langsung ini, menurut saya sebetulnya justru lebih efektif karena tak ada ‘perantaraan kepentingan’ yaitu partai. Di mana tiap kebijakan tak dikembalikan pada timbangan untung atau ruginya partai.</p>
<p>Di setiap reses atau kunjungan langsung (perorangan ataupun tim) ke daerah-daerah, saya bisa melihat langsung bagaimana kondisi yang dilaporkan rakyat. Bukan laporan yang hanya dibaca dari atas meja. Komunikasi intens yang persuasif juga bisa dibangun dari dialog langsung seperti ini. Sehingga saya ingin, bahwa rakyat bisa merasakan keterwakilan mereka di DPD RI (meski mungkin peran DPD sendiri masih menemui kendala (?) alias belum optimal lantaran ‘kerancuan’ dengan institusi DPR RI)</p>
<p>Biar <em>aja</em> ada yang <em>ngomong nylekit </em>waktu itu bahwa “..masih <em>mendhing</em> DPD kita undang. <em>Kalo nggak, ‘kan nggak </em>apa-apa juga…” atau adanya wacana ‘sakit’ yang menyatakan sebaiknya DPD dibubarkan<em>. Maapin aja dah. ‘</em>Kali<em> tuh </em>oknum lagi <em>nggak</em> kebagian duit sidang atau reses, atau mau jadi Pansus <em>trus nggak</em> jadi.<em>.he he he</em>.<em> </em></p>
<p>Namun bagaimanapun, saya berprinsip DPD RI tak boleh goyah. <em>Khittah</em>nya sebagai lembaga tinggi perwakilan rakyat daerah harus tetap berjalan sesuai yang diamanahkan oleh konstitusi. Sebagai anggota DPD RI, saya harus tetap menjalankan amanah mendengarkan aspirasi rakyat di daerah, dan memperjuangkan kemajuan daerah saya agar –setidaknya bisa hampir—sama dengan daerah lain yang sudah lebih dulu maju, di Indonesia.</p>
<p>Saya sendiri, ingin bisa berbuat banyak untuk daerah tempat saya tinggal, Kalimantan (Tengah). Saya melihat provinsi ini masih perlu banyak ‘sentuhan’ agar bisa lebih terangkat. Masih ada kesenjangan informasi. Masih banyak anak-anak sekolah di pelosok yang harus berjalan kaki saat musim hujan, tanpa sepatu lantaran becek. Masih banyak jalan-jalan utama atau jalan negara yang lebarnya sama dengan jalan di kompleks perumahan di Jawa. Dan lain-lain, dan lain-lain.</p>
<p>Inilah yang bisa dijadikan <em>input</em> atau masukan pada rekan-rekan di DPR RI, yang akan mempertimbangkan soal anggarannya. Dan “perguliran bola sampai ke gawang dengan baik dan aman” itulah, yang menjadi tanggung jawab saya dan rekan-rekan di DPD RI. Selebihnya ya berdoa, semoga kucuran dana untuk pembangunan di daerah agar tidak terlalu ‘<em>njomplang</em>’ alias <em>not balance. Lhoh, kok </em>jadi jauh <em>banget</em> ya mengkhayalnya?&#8230; ***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iwanresa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iwanresa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iwanresa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iwanresa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iwanresa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iwanresa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iwanresa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iwanresa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iwanresa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iwanresa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iwanresa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iwanresa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iwanresa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iwanresa.wordpress.com/252/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iwanresa.wordpress.com&amp;blog=16077436&amp;post=252&amp;subd=iwanresa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwanresa.wordpress.com/2011/12/29/kalo-saya-jadi-anggota-dpd-ri-kelak-musti-ngapain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5f0963b500bf8b9d16fe3245f59a975?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iwanresa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://iwanresa.files.wordpress.com/2011/12/lomba-dpd1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">lomba dpd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FISH of FURY (the Plesetan of Chen Cen)</title>
		<link>http://iwanresa.wordpress.com/2011/08/18/fish-of-fury-the-plesetan-of-chen-cen/</link>
		<comments>http://iwanresa.wordpress.com/2011/08/18/fish-of-fury-the-plesetan-of-chen-cen/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 03:41:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwanresa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwanresa.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Pesawat yang kutumpangi dari Jepang, sempat delayed 2 jam lantaran ban pesawat mengalami kerusakan. Ini bikin aku heran, kok kayak kasus bis malam di Pulau Jawa saja? Pihak maskapai akhirnya memberikan keterangan bahwa ban pesawat rusak karena setelah diselidik, bukan terbuat dari karet, tapi dari dodol ketan! Pesawat mendarat di Bandara Lu Ciu Man (itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iwanresa.wordpress.com&amp;blog=16077436&amp;post=229&amp;subd=iwanresa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pesawat yang<a href="http://iwanresa.files.wordpress.com/2011/04/chen2-4.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-230" title="chen2- 4" src="http://iwanresa.files.wordpress.com/2011/04/chen2-4.jpg?w=150&#038;h=100" alt="" width="150" height="100" /></a> kutumpangi dari Jepang, sempat <em>delayed </em>2 jam lantaran ban pesawat mengalami kerusakan. Ini bikin aku heran, <em>kok</em> kayak kasus bis malam di Pulau Jawa saja? Pihak maskapai akhirnya memberikan keterangan bahwa ban pesawat rusak karena setelah diselidik, bukan terbuat dari karet, tapi dari dodol ketan!</p>
<p>Pesawat mendarat di Bandara Lu Ciu Man (itu nama bandara mungkin lantaran kepergok saat pacaran melakukan <em>kiss-kiss</em>an ya? He he..), dua hari kemudian. Sial, ponsel A-Shin, saudara seperguruanku tak aktif begitu aku menghubunginya. Hanya ada suara operator: “Telpon yang Anda tuju, sedang digadai..” Busyet!</p>
<p>Coba kulihat, barangkali ada orang menjemput aku. Ada sebuah kertas karton diangkat orang di atas, aku tersenyum, mungkin untuk aku. Ternyata begitu kubaca, isinya: “Turunkan Nurdin Halid! Bersihkan PSSI!”  Lho? Kok sampai ke sini ya? Rupanya bukan. Aku manyun. Kulihat ada lagi, di sudut sana. Bergegas aku melangkah untuk mendekat dan membaca. Ternyata tulisannya berbunyi “Stop beras impor! Negara agraris, beras <em>kok</em> malah beli?”. Aku jadi bingung, <em>lho </em>ini <em>airport</em> apa lokasi demonstrasi <em>sih</em>?</p>
<p>Untungnya tak sampai beberapa menit kemudian, seorang gadis cantik menghampiriku. “<em>Ko</em> (Kakak) Chen-Cen?” tanyanya. Aku terkejut, mengernyitkan dahi. Kutatap dia. Siapa ya? Rasanya aku kenal…</p>
<p>“Kamu….<strong>Barbie Hsu</strong> ya? <em>Kok </em>ada di sini?” tanyaku.</p>
<p>“Benar. Saya jadi bintang tamu, sekilas lewat <em>aja</em> di sineblog (sinema blog) ini,” jawabnya.</p>
<p>“Ahh..ya ya..<em>Ni hau m</em><em>a</em>?” aku tertawa menjabat tangan dan mencium pipinya (mumpung! He he..)</p>
<p>“<em>Hau. Si cieh. </em>(Baik. Terima kasih).”</p>
<p>“Barbie, bagaimana kau tahu aku datang di bandara ini? Apa kau diutus A-Shin?”</p>
<p>“Aku diberi peran oleh Mas Iwan Prasetya, yang nulis sineblog ini, untuk menjemput Anda ke bandara. A-Shin sedang mengumpulkan teman-teman Perguruan Ching Wu. Dia..”</p>
<p>“Kenapa? Sibuk sampai tak bisa menjemput aku?”</p>
<p>“Nanti Anda akan tahu. Sekarang kita ke hotel dulu..”</p>
<p>“<em>Se-ma?! </em>(Apa?)” aku membelalakkan mata? <em>Ooohhh</em>..rejeki nomplok! Baru ketemu sudah diajak ke hotel..ihik ihik ihikkk…</p>
<p>“Jangan berpikiran mesum dulu. Teman-teman Anda menunggu di Hotel Victoria, karena keadaan di Ching Wu saat ini sedang tidak memungkinkan untuk melakukan pertemuan, ” Barbie tersenyum.</p>
<p><em>Plusss</em>..malunya aku..Ternyata seperti pepatah : “jauh barbeque daripada api”. Tapi, kenapa dia bilang stuasi di Ching Wu tidak memungkinkan?</p>
<p>“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kita masuk ke taksi dulu. Nanti kau akan tahu jawabnya,” Barbie menggamit tanganku dan melangkah dari tempat ini. Lumayannnn…dapat gandengannn…</p>
<p>***<span id="more-229"></span></p>
<p>Beberapa saudara seperguruanku memang sengaja menunggu di satu <em>suite </em>yang ada di hotel mewah ini. Terutama mereka yang paling dekat denganku; A-Shin, Siao Huo dan Vannaz Bo, serta satu-satunya murid utama Perguruan Ching Wu yang wanita; Zhang Zizi! Mereka memelukku erat penuh kerinduan. Padahal aku ya mengharapkan juga Barbie memelukku. Tapi dia malah pamit dengan alasan jatah perannya di sineblog ini sudah habis.</p>
<p>“Chen Cen, sebelumnya kami minta maaf, ada satu hal yang kami sembunyikan. Tapi itu bukan tanpa alasan..” A-Shin menghentikan makannya. Maklum, sudah habis setelah makan tiga piring. Ia menoleh ke arahku yang ada di sebelahnya.</p>
<p>“Serius amat sih? Sineblog ini <em>‘kan</em> cuma parodi. Santai <em>aja ‘lagi</em>,” tukasku sambil menyuap potongan ayam panggang.</p>
<p>“Jatahku di dialog serius, bro. Begini..sebenarnya..” A-Shin menatap satu per satu wajah kawan kami yang tiba-tiba saja ekspresi wajah mereka jadi murung. Aku meletakkan sumpit dan menatap tajam mereka.</p>
<p>“Ada apa <em>sih</em>?” tanyaku.</p>
<p>“Chen-Cen, empat hari yang lalu itu, kami sengaja tidak memberitahukanmu lantaran kamu sedang UAN alas Ujian Asal Ngerjain ‘kan? Kami tahu kau sudah ikut UAN empat kali berturut-turut gagal terus, jadi kami takut konsenstrasimu buyar,” Vannaz Bo menimpali.</p>
<p>“Sebetulnya….Guru kita, Huo Yan Jia,..meninggal dunia saat itu…” ujar A-Shin lagi. Aku tersentak seperti tersengat listrik 5 watt (lebih dari itu, aku<em> ngga</em><em>k</em> berani!).</p>
<p>“Apa?”</p>
<p>“Kurang ekspresif..sedikit lagi <em>dong</em>..”</p>
<p>“Apa?!!!”</p>
<p>“Ya lumayan….Iya, Guru Huo meninggal…”</p>
<p>“A-Shin, bagaimana mungkin?!!!!”</p>
<p>“<em>Busyet! Nyaring bener</em>?” A-Shin dkk terperanjat, terkejut, rupanya volume suaraku kencang benar. Maklum di Jepang dulu, aku pernah dilatih vocal oleh Meniru Nikihama, vokalis grup<em> heavy metal</em>; Loadness.</p>
<p>“Bagaimana mungkin? Guru adalah pendekar tanpa tanding!!”</p>
<p>“Memang sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya”</p>
<p>“<em>Ohhhh</em>???”aku menutup mulut dengan tangan terkepal.”Ti-dakkkk..”</p>
<p>***</p>
<p>Aku berlutut, membungkuk hormat tiga kali sebelum memasang <em>yong swa </em>(hio/ dupa batangan) di makam guruku; Huo Yan Jia. Sahabat-sahabatku itu berdiri di sekelilingku.</p>
<p>“Sebelum meninggal, beliau sempat merasa ada yang tak beres dengan dirinya. Dan saat mejelang ronde terakhir bertarung melawan jagoan asal Jepang; Yosaiki Mukarata, guru sempat muntah darah, kami mau panggilkan dokter tapi beliau tolak,” ucap A-Shin pelan,dengan suara parau.</p>
<p>“Kau yang salah panggil! Malah dokter spesialis kandungan yang kau bawa! Dasar tolol!” maki Barbie Hus sewot.</p>
<p>“<em>Ssh</em>! Sudah..sudah jangan bertengkar. Kita semua lagi sedih. <em>Nih</em> lihat, handuk yang kubawa saja sampai basah begini buat menyeka air mata,” Siao Huo memeras handuknya.</p>
<p>Aku mengepalkan tinju. Bunyi “<em>krrtkkk..krrpkk</em>..” terdengar. Di sebelah sana, Vannaz meremas beberapa buah krupuk. Rupanya ia yang membuat <em>sound effect</em> pada kepalanku barusan. “Katakan, apa Perkumpulan Petarung Jepang yang disponsori Mafia Naga Hijau yang melakukan ini?” aku bertanya lirih. Kuusap batu nisan almarhum guru kami.</p>
<p>“Jelas. Tapi Mukarata tak terlibat. Dia petarung yang jujur dan menjunjung tinggi sportifitas. Saat pemakaman, dialah satu-satunya petarung Jepang yang datang. Yang lain, alfa. Tapi kita tak punya bukti untuk membawa mereka ke meja polisi,” sahut A-Shin.</p>
<p>“Kematian guru adalah pembuka jalan mulus mereka untuk menguasai persilatan di sini. Dan itu akan membuat mereka juga bebas menjalankan bisnis gelap lantaran tak ada yang menghalangi. Sebab selama ini guru kitalah yang paling keras menentang kesewenangan Mafia Naga Hijau,” imbuh Jacklyn.</p>
<p>“Perkumpulan Petarung Jepang memporakporandakan perguruan kita dua hari kemudian. Tidak dengan cara kasar, tapi memakai polisi dengan alasan bahwa kita sudah mengacaukan tempat usaha mereka,” ujar Siao Huo.</p>
<p>“Dan usai pemakaman guru, aku dan beberapa murid menyerbu Panti Pijat Enake-iki milik Toshiki Kudo, ketua perkumpulan itu. Sayang,….kami kalah bertarung..Selain banyak, mereka memakai beberapa oknum Kamen Raider yang disuap dan pernah disewa juga untuk mengawal Gayus Tambunan,” Vannez menimpali dengan suara lirih.</p>
<p>“Kalau begitu, aku punya cara sendiri untuk mencari bukti. Setidaknya berupa pengakuan,” aku berdiri dari bersimpuhku di samping makam guru. “Vannaz, kau tahu di mana salah satu bisnis terbesar mereka?”</p>
<p>Vannaz Bo tersenyum dan mengangguk.</p>
<p>***</p>
<p>Perusahaan Jasa Keamanan <em>Kudo Secure Corporation. </em>Ini bisnis besar salah satu asset Mafia Naga Hijau, yang kebanyakan mencari ‘klien’ dengan sistem mengancam. Kebanyakan para pemakai jasanya adalah para politisi korup, pengusaha yang punya skandal, selebriti pongah dll. Dengan diantar Vannaz Bo, aku mendatangi perusahaan itu.</p>
<p>Begitu kami keluar dari mobil, dua pria berambut cepak, bertubuh ala binaraga, mendatangi kami. “Kalian ada janji?” tanya mereka dengan nada angkuh.</p>
<p>“Ya. Dengan perawat di rumah sakit, yang akan mengurus kalian opname di sana,” sahutku. Dan secepat kilat tinjuku melayang menghantam perut serta wajah mereka. “<em>Wuu</em>!!” seruku. Keduanya terhuyung. “<em>Wataaa!</em>!” aku meloncat, menyapukan tendangan kanan putar 360 derajat, dan langsung membuat mereka pingsan tanpa ragu-ragu atau malu sedikitpun.</p>
<p>“Vannaz, kau tunggu di mobil saja. Biar aku yang ke dalam,” ucapku. Pemuda berambut sebahu itu mengangguk. Ia kembali ke mobil. Aku melangkah ke dalam bangunan ini, menuju ruang resepsionis.</p>
<p>Seorang wanita muda cantik berwajah ke-indo-an menyambut dengan ramah. Agaknya ia tak tahu kalau penjaga di depan sudah kami kanvaskan. “Selamat datang di kantor kami. Ada yang bisa kami bantu?” sambutnya penuh senyum yang di saat tak seperti ini aku yakin bakal tergoda 200%.</p>
<p>“Tolong katakan pada Tuan Kudo, saya Chen Cen dari Perguruan Ching Wu, datang untuk menemuinya,” aku menjawab, dengan berusaha sewajar mungkin. Sambil mencuri pandang kecantikan wajah dan keelokan bodinya, aku membaca namanya di ID Card: Maria Ozawa.</p>
<p>“Baik, kalau begitu saya akan hubungi beliau. Silakan duduk dulu”</p>
<p>“Terima kasih”</p>
<p>“Aa..Nona Ozawa..”</p>
<p>“Ya Tuan Chen?” ia berbalik dan tersenyum muaanissssss sekali!</p>
<p>“Bagaimana saya bisa duduk?” aku menunjuk sofa. Ada Master Limbad di situ sedang duduk di atas paku-paku runcing! Pemagis yang jarang bicara itu hanya mengerling, mengangkat alis padaku. Seolah berkata,” Apa <em>lu</em>? Berani?”</p>
<p>“Oh maaf, maksud saya, di sebelah situ,” Maria Ozawa menunjuk ke kursi sofa di sebelah kananku. Aku pun duduk di situ. Baru saja beberapa detik aku meletakkan pantat, beberapa lelaki bertampang sangar mendatangiku bersama dua penjaga yang kurobohkan tadi. Aku pun berdiri. Jelas, mereka datang bukan untuk ramah tamah atau main <em>gaple’</em> bersamaku!</p>
<p>“<em>Hei</em>, <em>lekong</em> kurang azar!<em> Ye</em> <em>udah</em> bikin <em>Ik</em> sama temen <em> Ik </em>pingsan ‘<em>bentar </em> tadi! <em>Gak</em> enak<em> banget</em> dipukul.<em>.ihhhh.</em>.kasur <em>eh</em> kasar banget <em>sih</em>? <em>Ik gak</em> terima <em>nih</em>….<em>Temen-temen</em> bodyguard, <em>yuk</em> kita keroyok bocah ini<em> yuk</em>?”</p>
<p>“Yyyyyukkkk??” jawab teman-temannya yang berwajah sangar namun menjawab dengan gaya kemayu. Aku mengacungkan telunjuk ke wajah mereka satu per satu, sambil menghitung jumlah mereka. Tanganku bergerak melambai menyuruh mereka maju serentak.</p>
<p>“<em>Wuaouu</em>!!” aku menyentil hidung, memekik dan berlari kencang meninggalkan ruangan ini. Para tukang pukul itu mengejar. Kami berkejar-kejaran seru. Kadang memakai adegan <em>slow-motion</em>. Sampai akhirnya di luar, di halaman depan gedung ini, aku tendang satu dari mereka. “<em>Wataaa!!</em>”</p>
<p>Lelaki berambut cepak yang bertindik paku pinus di hidung itu terjengkang jatuh. Tubuhnya menimpa tanaman-tanaman kaktus yang ada di deretan pot depan gedung. Sebuah tendangan melayang ke arah kepala, aku menangkis. Tendangan bawahku mendepak paha penendangku itu. Ia menjerit, aku menyumpal mulutnya dengan bakpao, lalu menendang dadanya hingga ia terjengkang menyusul temannya tadi.</p>
<p>Tinju dan tendanganku menyambar ke sana kemari, mendera kepala maupun tubuh para <em>bodyguard </em>ini. Ada satu tukang pukul yang KO seketika, kuberi tendangan melayang mengenai samping kepalanya. Temannya menghitung sampai 10, bonus 5 hitungan lagi, ia tetap tak bangun.</p>
<p>Dua tukang pukul berlari menyerbuku, aku meloncat. Tendangan kananku melesat mengenai wajah seorang dari mereka, yang berada di kananku. Yang berada di sebelah kiri, kepalanya kena ayunan tinjuku. Kepalanya langsung benjol sebesar telor ayam. Keduanya ambruk mengaduh-aduh..</p>
<p>“Berhentiiii!!” sebuah suara begitu nyaring, memekakkan telinga, mengejutkan kami  semua yang berkelahi. Begitu lantangnya suara itu sampai semua menutup telinga. Dua buah lampu neon sampai pecah. ( Tapi itu karena ada seorang anak yang memecahkannya dengan sapu, untuk memberikan efek hebat pada suara tadi…)</p>
<p>“Ilmu Suara Halilintar?” aku bertanya dalam hati, karena pernah mendengar ada ilmu silat seperti ini, yang memakai energi suara, dilambari tenaga dalam tingkat tinggi. Namun begitu kutengok, ternyata di pintu masuk bangunan ini, ada seorang lelaki bertubuh pendek kekar, memegang<em> loudspeaker.</em></p>
<p><em> </em>“Aaa????!!” kami semua yang semula berkelahi, sama-sama terperanjat. Sialan! Ternyata itu yang membuat suara tadi begitu nyaring.</p>
<p>&#8211;<strong>TO BE NYAMBUNG IN SERI II..He he he..&#8211;</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iwanresa.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iwanresa.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iwanresa.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iwanresa.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iwanresa.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iwanresa.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iwanresa.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iwanresa.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iwanresa.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iwanresa.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iwanresa.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iwanresa.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iwanresa.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iwanresa.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iwanresa.wordpress.com&amp;blog=16077436&amp;post=229&amp;subd=iwanresa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwanresa.wordpress.com/2011/08/18/fish-of-fury-the-plesetan-of-chen-cen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5f0963b500bf8b9d16fe3245f59a975?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iwanresa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://iwanresa.files.wordpress.com/2011/04/chen2-4.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">chen2- 4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KALAU ROCKER JANGAN CENGENG! (2)</title>
		<link>http://iwanresa.wordpress.com/2010/09/27/teori-bola/</link>
		<comments>http://iwanresa.wordpress.com/2010/09/27/teori-bola/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Sep 2010 14:14:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwanresa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[band rock kampus]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi fresh]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi musikal-humor]]></category>
		<category><![CDATA[tentang rocker]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwanresa.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Ringkasan cerita yang lalu: Resnawan diantar ayahnya ke rumah kos Pak Broto. Sang ayah ‘menyerahkan’ anak semata wayangnya itu kepada sang bapak kos yang ternyata ridiculous &#38; dumb. Saat Ospek di kampus, ia berkenalan dengan cewek manis yang membuatnya kepincut. Gadis keturunan Tionghoa  bermata jernih itu bernama Erlina Mayawati. Nama asli, Chinese name-nya Hui Siau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iwanresa.wordpress.com&amp;blog=16077436&amp;post=23&amp;subd=iwanresa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ringkasan cer</em><a href="http://iwanresa.files.wordpress.com/2010/09/martyinterview.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-223" title="Martyinterview" src="http://iwanresa.files.wordpress.com/2010/09/martyinterview.jpg?w=117&#038;h=150" alt="" width="117" height="150" /></a><em>ita yang lalu: </em></p>
<p><strong>Resnawan diantar ayahnya ke rumah kos Pak Broto. Sang ayah ‘menyer</strong><strong>ahkan’ anak semata wayangnya itu kepada sang bapak kos yang ternyata <em>ridiculous &amp; dumb. </em>Saat Ospek di kamp</strong><strong>us, ia berkenalan dengan cewek manis yang membuatnya <em>kepincut</em>.</strong></p>
<p>Gadis keturunan Tionghoa  bermata jernih itu bernama Erlina Mayawati. Nama asli,<em> Chinese name-</em>nya Hui Siau Yi atau dalam dialek Hokkiannya Hwee Kiauw Yi.  Nasionalismenya justru lebih besar dari orang pribumi seperti Resnawan sendiri! Itu terlihat ketika upacara bendera. Erlina nampak khidmat menghormat sang saka merah putih, bahkan sampai terlihat meneteskan air mata.</p>
<p>Juga saat usai makan nasi kotak jatah dari kampus, Erlina menyisihkan dua nasi kotak yang masih tersisa di meja panjang. Resnawan melongo melihat gadis ini.</p>
<p>“Buat teman di kos-kosanmu?” tanya Resnawan. Erlina tersenyum, menggeleng. Dia menghampiri seorang perempuan pemulung yang memilah-milah kardus nasi kotak. Para pemulung, biasanya memang datang ke kampus bila ada acara Ospek. Selain mengumpulkan kardus atau kertas bekas, mereka berharap ada lauk atau makanan enak yang masih tersisa dan bisa dimakan.</p>
<p>“Mak, ini buat Emak ya? <em>Tuh</em> kasihan si adik <em>kayak</em>nya lapar,” Erlina mengulurkan dua nasi kotak itu ke ibu pemulung yang ditemani bocah perempuan kecil, kira-kira berusia 5 atau 6 tahun. Sang ibu pemulung mencium tangan Erlina dan menyatakan terimakasih berkali-kali. Resnawan jadi trenyuh, ia ikut memberi bantuan spontanitas. Bukan nasi kotak, tapi uang Rp 10.000 yang ia berikan si anak kecil.</p>
<p>“<em>Kok </em>kamu nangis?” Erlina mengernyitkan dahi, menoleh, menatap Resnawan. “Kamu cowok, tapi perasaan kamu sensitif juga, rupanya. Terharu ya?”</p>
<p>“Bukan itu, Lin…Geser kakimu <em>dong,</em>” Resnawan menunjuk ke bawah.<span id="more-23"></span></p>
<p>Erlina melihat ke bawah, ia tertawa dan lekas menggeser kakinya, yang rupanya menginjak kaki teman barunya ini. Ditepuknya lengan Resnawan.</p>
<p>“Ngomong <em>dong </em>kalau <em>keinjak</em>!”</p>
<p>“Ya kamu, main sikat kakiku <em>aja, nggak</em> lihat-lihat dulu..”</p>
<p>“<em>Sorry deh</em> Wan. Ya? Ya?”</p>
<p>“<em>Aaaahh!!</em>&#8230;.Paling susah<em> nih</em>”</p>
<p>“Susah kenapa?”</p>
<p>“Ya susah nolak cewek secantik kamu!”</p>
<p>Erlina makin tertawa. Resnawan tersenyum. Rasanya senang sekali melihat cewek itu tertawa lepas, dan memamerkan deretan giginya yang putih serta rata. Sejak itu, mereka makin akrab. Bahkan tak jarang, Resnawan sengaja singgah ke kos-kosan Erlina. Selain senang karena bisa dekat gadis itu, ada sebuah kesenangan yang lain. Yaitu disajikannya aneka kuliner hasil ekspresimen Erlina, yang ternyata tak kalah dengan kue-kue di toko roti. <em>He he he</em>,<em> itung-itung </em>irit anggaran beli <em>snack…</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>*</em></p>
<p><em> </em>Tak terasa sudah beberapa bulan, mereka menjadi teman akrab. Meski jujur saja, Resnawan mengharapkan lebih dari sekadar status “teman akrab”. Istilah TTM alias Teman Tapi Mesra mungkin tepat juga <em>sih, </em>soalnya mereka juga suka nonton atau makan <em>bareng. </em>Tapi istilah itu<em> udah</em> telanjur jamak, biasa, lazim, lumrah,..apalagi ya?..Ya, pokoknya cari istilah lainlah!&#8230;<em>Naah</em>!! ATM mungkin tepat. Kepanjangan dari….. : A-teman Tapi Mesra.<em>.he he he</em>..sama <em>aja</em> ya? Habis, yang <em>ngarang</em> cerita ini juga bingung <em>sih</em>!</p>
<p><em>Yah</em>, pokoknya <em>mah </em>Resnawan dan Erlina sudah jadi <em>kayak</em> orang pacaran <em>deh</em>, meski secara KUHP (Kacamata Umum Hukum Pacaran) Pasal 635 Ayat 441 junto b menyatakan bahwa pacaran itu kriterianya adalah:  “Sebuah kegiatan yang dilakukan oleh dua manusia berbeda kelamin, secara intens, kontinyu dan penuh perasaan, serta melibatkan perasaan cinta, dan disahkan dengan adanya pernyataan cinta dari  salah satu pihak dan pihak yang lain menerimanya dengan keikhlasan/ sukacita”. Bingung kalimatnya ya? <em>Lho,</em> dalam hukum, kalimatnya <em>emang gitu, nggak kayak</em> kalimat dalam koran yang penuh editan dengan kaidah estetika tata bahasa itu…</p>
<p>Hingga suatu hari, Resnawan mengumpulkan ‘sekutu-sekutu’ terdekatnya : Franz ‘GK’ Hehamahua dan Harun. GK itu istilah pemberian Resnawan, kepanjangan dari “<em>Grombyang Klonthang”. </em>Istilah dlm Bhs Jawa untuk menunjukkan betapa riuh rendahnya suasana. Pas seperti karakter Franz yang selalu ramai. Sedangkan Harun yang &#8211;sungguh berani sumpah&#8211; tak ada hubungannya dengan artis Donna Harun ataupun pengamat Refly Harun, orangnya tenang dan sukanya tidur kalau habis<em> ngemil</em> banyak lalu ngopi. Ya, orang lain minum kopi, biasanya susah tidur. Tapi si Harun memang ‘spesies’ aneh, habis minum kopi langsung tidur! Syaraf matanya terbuat dari daun ketela <em>‘kali</em> ya?&#8230;</p>
<p>“Jadi, <em>gua </em>rasa <em>nih</em>, <em>gua udah </em>saatnya ngomong <em>ama</em> Erlina, bahwa <em>gua </em>sebenarnya sayang sama dia. Menurut kalian, <em>‘gimana?</em>”  lempar Resnawan. Sesaat keduanya terdiam. Franz memegang, mengusap dagu dan manggut-manggut persis ayam habis minum pil KB. Sedangkan Harun berpikir dengan gaya khasnya, yaitu tiarap sambil memegangi hidung. Padahal , apa otaknya <em>bener</em> ada di hidung?</p>
<p>“<em>Ngg..kalo</em> boleh kasih usul <em>sih.</em>.coba cari cara yang kreatif, bukan <em>kayak</em> dalam kisah cinta tahun ’80-‘90an, dan <em>kalo</em> perlu ada sponsornya..” ucap Franz serius banget. Resnawan &amp; Harun terhenyak mendengar usulnya.</p>
<p>“<em>Lu kira ajang dangdutan, pake</em> sponsor segala?” sergah Harun sengit.</p>
<p>“Biar kreatif ‘<em>gitu</em>, Bro,” Franz mendiplomasi.</p>
<p>“Kreatif rambut <em>lu</em> <em>ruwet! </em>..<em>Eh, </em>Wan, minggu depan kamu<em> ‘kan</em> manggung di acara <em>FISIP Music Night</em>? Coba ajak Erlina ke situ. Selain bisa jadi spirit buat kamu, di situ kamu bisa berikan sinyal-sinyal jelas dulu buat dia. Terserah, apa habis itu mau ‘nembak’ ke dia, boleh <em>aja</em>. <em>Nggak</em> dilarang DPR atau LBH,” usul Harun.</p>
<p>“<em>Nahhh</em>!!! Ide baguss!!” Resnawan bersorak, menepukkan tangan ke pundak Harun &amp; Franz. Kedua manusia itu terlonjak kaget , nyaris terjengkang.</p>
<p>“<em>Busyet!</em> Bikin orang kaget! <em>Sompret</em>!” omel keduanya penuh amarah.</p>
<p>*</p>
<p>Acara yang digelar di gedung auditorium kampus itu berlangsung meriah. Meski bagi Resnawan, MC-nya masih harus latihan <em>ngocol</em>, <em>koprol</em>, <em>ngompol</em> atau apa <em>kek, </em>lebih keras lagi. Soalnya <em>nggak balance banget</em>. Yang cewek lincah ngomongnya, tapi yang cowok cuma bermodal kata “Ya,..ya,..benar”..<em>Duhhh, </em>jangan-jangan yang <em>ngelatih</em> dia <em>tuh</em> pelatih lumba-lumba di Ancol? Wk wkwk wk wk….</p>
<p><em>Ah, bodo</em> <em>amat</em>! Yang penting buat Resnawan, bandnya disebut juga sebagai salah satu pengisi acara. Bangga juga. Apalagi <em>kalo ntar</em> bisa <em>ngisi </em>acara “Pemburu Setan”..<em>eits! nggak ding!</em>..Resnawan sadar diri, orangnya pemalu berat, bahkan tak percaya diri, kalau harus lewat kuburan atau nonton film horor.</p>
<p>Dan menunggu giliran tampil di depan bawah panggung, lebih mengasyikkan bagi Resnawan saat duduk di karpet bersama Erlina dan teman-temannya. Apalagi cewek itu menempel di sampingnya. Persis kena sedot v<em>acuum cleaner he he he</em>..</p>
<p>“Dan sekarang, Sutopo,..kita bakal saksikan penampilan dari band yang merupakan gabungan dari anak-anak FISIP, FKIP dan FH..” kata Dina, sang MC cewek pada rekannya. Sutopo?.. <em>Walaahh</em>, cowok <em>kok</em> namanya tua <em>banget tuh</em> MC ‘<em>atu</em>?..Resnawan nyaris terpingkal-pingkal.</p>
<p>“Ya betul, Dina. Siapakah- mereka- gerangan?” sahut Sutopo dengan lagak &amp; wajah serius. Persis <em>kayak</em> lagi<em> ngadepin </em>Ujian Semester dan huruf di lembar soal<em> ilang</em> semua!..</p>
<p>“Mereka punya nama cukup seram tapi keren: Bad Boyz!! Tepuk tangan!!” suara nyaring Dina langsung disambut tepuk tangan penonton yang memadati auditorium. Lebih-lebih Erlina dkk. Resnawan berdiri, dan berjalan ke panggung diikuti kawan-kawannya.</p>
<p>“Din<em>, temen lu nge-MC abis</em> berobat ke Mak Eprot ya? Kaku begitu?” ledek Resnawan pada Dina yang memang dikenalnya baik.</p>
<p>“Harusnya si Boim. Tapi dia kena malaria. Terpaksa <em>deh</em> karung goni ini yang <em>nggantiin</em>,” bisik Dina.</p>
<p>“Apa <em>nggak</em> ada yang lain?”</p>
<p>“Ada. Tapi <em>kalo dia ‘kan nggak</em> nuntut duit. Orang dia yang penting tampil, <em>abis</em> itu fotonya <em>diliat-liatin</em> ke keluarganya di kampung”</p>
<p>“Dasar otak mafia<em> lu</em>!”</p>
<p>Dina cuma tertawa cekikikan dikatai begitu. Ia memperkenalkan satu per satu personal Bad Boyz dengan gayanya yang lincah. Maklum, ia juga nyambi jadi penyiar radio di salah satu radio swasta kota ini. Sambilan lainnya lagi, jadi instruktur senam, voli juga becak!.. Komplit<em> deh</em>.</p>
<p>“Hadirin sekalian, band beraliran rock ini bisa dibilang simbol kekompakan <em>lho.</em>Mereka bukan hanya terdiri dari fakultas atau sekolah yang berbeda, tapi juga dalam banyak hal. Sama <em>kayak</em> DPR <em>sih, cuman </em>bedanya kalau DPR kompaknya hanya saat dikritik soal studi banding ke LN ya? He he<em>..Okey deh</em>, kenalkan, vokal merangkap gitar: Resnawan, dari FKIP Jur Ekonomi! Gitar utama sekaligus <em>backing vocal </em>: Hendra Lie, dari SMA Kanisius! Gitar bas; Isnu dari FH dan dram: Dekky dari FISIP dan sang keboardis; Mike Andrews dari SMA International School..<em>So, give big applaus to…</em> Bad Boyz!!!”</p>
<p>Penonton bertepuk tangan. Mata Resnawan tertuju pada Erlina yang duduk memperhatikannya dari depan bawah panggung. Hendra menginjak pedal <em>sound</em> gitarnya, mencoba efek distorsi. Resnawan menggenjreng gitar listriknya dulu, baru memegang <em>mic.</em></p>
<p><em> “</em>Selamat malam. Kalau tadi sudah banyak band atau solois yang membawa lagu-lagu pop maupun hits yang jadi trend saat ini, kami mungkin terbilang <em>out to date. </em>Seperti lagu ini yang akan kami bawakan, lagu lama dari White Lion <em>You’re All I Need, </em>yang sedikit kami aransir ulang,” kata Resnawan disambut riuh tepuk tangan penonton. Bahkan ada yang bersuit.</p>
<p>Petikan gitar kumulai dengan nada lebih ke pentatonik, baru kemudian Hendra menyambung ke nada diatonik, memulai intro lagu yang sesungguhnya. Resnawan berusaha membawakan dengan segenap perasaannya. Bahwa tiap bait dalam lagu itu, merupakan curahan perasaannya terhadap Erlina. (kalo kalian mo dengerin juga ni lagu, silakan klik ini nih:<a href="/My%20Documents/My%20Music/slow%20rock/White%20Lion%20-%2005%20You%27re%20All%20I%20Need.mp3">file:///D:/My%20Documents/My%20Music/slow%20rock/White%20Lion%20-%2005%20You%27re%20All%20I%20Need.mp3 )<br />
</a></p>
<p>“<em>I know that she’s waiting, for me to say forever</em></p>
<p><em> I know that I sometimes, just don’t know how to tell her</em></p>
<p><em> I want to hold and kiss her, give her my love, make her believe</em></p>
<p><em> She doesn’t know, she doesn’t know..</em></p>
<p><em> Reff: You’re all I need beside me girl, you’re all I need to turn my world</em></p>
<p><em>You’re all I want inside my heart, you’re all I need when we’re apart.. </em>dst dst”</p>
<p>Memang nampak Erlina memperhatikan dengan seksama, saat Resnawan dkk membawakan lagu tsb dengan penuh ekspresif. Gadis itu tak menyanka juga, Resnawan yang selama ini dikenalnya lincah dan lucu, saat di panggung menjadi serius dan penuh penjiwaan. Permainan para personel grup ini juga seolah ikut bicara isi lagu. Mereka memainkan dengan hati, sehingga lagu tsb menjadi begitu hidup bagi sapapun yang mendengarnya. Apalagi saat Mike &amp; Hendra yang jadi <em>backing vocal</em> juga, melatari suara Resnawan dengan sangat harmonis.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>eBERSAMBUNGdik!</strong></p>
<p>(foto-foto di atas diambil dari internet, sebagai ilustrasi saja)</p>
<p><img src="../DOCUME%7E1/WINXP/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.png" alt="" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iwanresa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iwanresa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iwanresa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iwanresa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iwanresa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iwanresa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iwanresa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iwanresa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iwanresa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iwanresa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iwanresa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iwanresa.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iwanresa.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iwanresa.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iwanresa.wordpress.com&amp;blog=16077436&amp;post=23&amp;subd=iwanresa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwanresa.wordpress.com/2010/09/27/teori-bola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5f0963b500bf8b9d16fe3245f59a975?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iwanresa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://iwanresa.files.wordpress.com/2010/09/martyinterview.jpg?w=117" medium="image">
			<media:title type="html">Martyinterview</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
