KALO SAYA JADI ANGGOTA DPD RI (KELAK), MUSTI NGAPAIN?

29 12 2011

Oleh: Agus Prasetyo Gumiawan (Iwan Prasetya)

 

Punya cita-cita setinggi Menara Monas atau Petronas, boleh dong? Dan salah satu obsesi saya, jujur aja, sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI). Tapi namanya saja keinginan. Tercapai ya syukur, nggak tercapai ya udah. Saya tetap asyik mainkan musik (rock) di atas stage. Syukur bisa duet bareng Mike Tramp atau Vina Panduwinata..(He he he..Nih dua orang sungguh idola saya..)

Saya berandai-andai, peran sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atau DPD RI, -akan- menuntut saya untuk lebih banyak turun ke daerah, khususnya di Daerah Pemilihan (Dapil) saya. Sebab di sanalah saya bisa menyerap banyak masukan dari rakyat, tentang apa yang mereka inginkan. Bukan apa yang pemerintah inginkan. Jangan sampai ada gejolak panas macam di Papua (OPM) atau Aceh (GAM). Rakyatlah pembayar pajak di negeri ini, yang seharusnya punya hak untuk menentukan keinginan dari kebutuhannya.

Sistem hearing langsung ini, menurut saya sebetulnya justru lebih efektif karena tak ada ‘perantaraan kepentingan’ yaitu partai. Di mana tiap kebijakan tak dikembalikan pada timbangan untung atau ruginya partai.

Di setiap reses atau kunjungan langsung (perorangan ataupun tim) ke daerah-daerah, saya bisa melihat langsung bagaimana kondisi yang dilaporkan rakyat. Bukan laporan yang hanya dibaca dari atas meja. Komunikasi intens yang persuasif juga bisa dibangun dari dialog langsung seperti ini. Sehingga saya ingin, bahwa rakyat bisa merasakan keterwakilan mereka di DPD RI (meski mungkin peran DPD sendiri masih menemui kendala (?) alias belum optimal lantaran ‘kerancuan’ dengan institusi DPR RI)

Biar aja ada yang ngomong nylekit waktu itu bahwa “..masih mendhing DPD kita undang. Kalo nggak, ‘kan nggak apa-apa juga…” atau adanya wacana ‘sakit’ yang menyatakan sebaiknya DPD dibubarkan. Maapin aja dah. ‘Kali tuh oknum lagi nggak kebagian duit sidang atau reses, atau mau jadi Pansus trus nggak jadi..he he he.

Namun bagaimanapun, saya berprinsip DPD RI tak boleh goyah. Khittahnya sebagai lembaga tinggi perwakilan rakyat daerah harus tetap berjalan sesuai yang diamanahkan oleh konstitusi. Sebagai anggota DPD RI, saya harus tetap menjalankan amanah mendengarkan aspirasi rakyat di daerah, dan memperjuangkan kemajuan daerah saya agar –setidaknya bisa hampir—sama dengan daerah lain yang sudah lebih dulu maju, di Indonesia.

Saya sendiri, ingin bisa berbuat banyak untuk daerah tempat saya tinggal, Kalimantan (Tengah). Saya melihat provinsi ini masih perlu banyak ‘sentuhan’ agar bisa lebih terangkat. Masih ada kesenjangan informasi. Masih banyak anak-anak sekolah di pelosok yang harus berjalan kaki saat musim hujan, tanpa sepatu lantaran becek. Masih banyak jalan-jalan utama atau jalan negara yang lebarnya sama dengan jalan di kompleks perumahan di Jawa. Dan lain-lain, dan lain-lain.

Inilah yang bisa dijadikan input atau masukan pada rekan-rekan di DPR RI, yang akan mempertimbangkan soal anggarannya. Dan “perguliran bola sampai ke gawang dengan baik dan aman” itulah, yang menjadi tanggung jawab saya dan rekan-rekan di DPD RI. Selebihnya ya berdoa, semoga kucuran dana untuk pembangunan di daerah agar tidak terlalu ‘njomplang’ alias not balance. Lhoh, kok jadi jauh banget ya mengkhayalnya?… ***





FISH of FURY (the Plesetan of Chen Cen)

18 08 2011

Pesawat yang kutumpangi dari Jepang, sempat delayed 2 jam lantaran ban pesawat mengalami kerusakan. Ini bikin aku heran, kok kayak kasus bis malam di Pulau Jawa saja? Pihak maskapai akhirnya memberikan keterangan bahwa ban pesawat rusak karena setelah diselidik, bukan terbuat dari karet, tapi dari dodol ketan!

Pesawat mendarat di Bandara Lu Ciu Man (itu nama bandara mungkin lantaran kepergok saat pacaran melakukan kiss-kissan ya? He he..), dua hari kemudian. Sial, ponsel A-Shin, saudara seperguruanku tak aktif begitu aku menghubunginya. Hanya ada suara operator: “Telpon yang Anda tuju, sedang digadai..” Busyet!

Coba kulihat, barangkali ada orang menjemput aku. Ada sebuah kertas karton diangkat orang di atas, aku tersenyum, mungkin untuk aku. Ternyata begitu kubaca, isinya: “Turunkan Nurdin Halid! Bersihkan PSSI!”  Lho? Kok sampai ke sini ya? Rupanya bukan. Aku manyun. Kulihat ada lagi, di sudut sana. Bergegas aku melangkah untuk mendekat dan membaca. Ternyata tulisannya berbunyi “Stop beras impor! Negara agraris, beras kok malah beli?”. Aku jadi bingung, lho ini airport apa lokasi demonstrasi sih?

Untungnya tak sampai beberapa menit kemudian, seorang gadis cantik menghampiriku. “Ko (Kakak) Chen-Cen?” tanyanya. Aku terkejut, mengernyitkan dahi. Kutatap dia. Siapa ya? Rasanya aku kenal…

“Kamu….Barbie Hsu ya? Kok ada di sini?” tanyaku.

“Benar. Saya jadi bintang tamu, sekilas lewat aja di sineblog (sinema blog) ini,” jawabnya.

“Ahh..ya ya..Ni hau ma?” aku tertawa menjabat tangan dan mencium pipinya (mumpung! He he..)

Hau. Si cieh. (Baik. Terima kasih).”

“Barbie, bagaimana kau tahu aku datang di bandara ini? Apa kau diutus A-Shin?”

“Aku diberi peran oleh Mas Iwan Prasetya, yang nulis sineblog ini, untuk menjemput Anda ke bandara. A-Shin sedang mengumpulkan teman-teman Perguruan Ching Wu. Dia..”

“Kenapa? Sibuk sampai tak bisa menjemput aku?”

“Nanti Anda akan tahu. Sekarang kita ke hotel dulu..”

Se-ma?! (Apa?)” aku membelalakkan mata? Ooohhh..rejeki nomplok! Baru ketemu sudah diajak ke hotel..ihik ihik ihikkk…

“Jangan berpikiran mesum dulu. Teman-teman Anda menunggu di Hotel Victoria, karena keadaan di Ching Wu saat ini sedang tidak memungkinkan untuk melakukan pertemuan, ” Barbie tersenyum.

Plusss..malunya aku..Ternyata seperti pepatah : “jauh barbeque daripada api”. Tapi, kenapa dia bilang stuasi di Ching Wu tidak memungkinkan?

“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kita masuk ke taksi dulu. Nanti kau akan tahu jawabnya,” Barbie menggamit tanganku dan melangkah dari tempat ini. Lumayannnn…dapat gandengannn…

*** Baca entri selengkapnya »





KALAU ROCKER JANGAN CENGENG! (2)

27 09 2010

Ringkasan cerita yang lalu:

Resnawan diantar ayahnya ke rumah kos Pak Broto. Sang ayah ‘menyerahkan’ anak semata wayangnya itu kepada sang bapak kos yang ternyata ridiculous & dumb. Saat Ospek di kampus, ia berkenalan dengan cewek manis yang membuatnya kepincut.

Gadis keturunan Tionghoa  bermata jernih itu bernama Erlina Mayawati. Nama asli, Chinese name-nya Hui Siau Yi atau dalam dialek Hokkiannya Hwee Kiauw Yi.  Nasionalismenya justru lebih besar dari orang pribumi seperti Resnawan sendiri! Itu terlihat ketika upacara bendera. Erlina nampak khidmat menghormat sang saka merah putih, bahkan sampai terlihat meneteskan air mata.

Juga saat usai makan nasi kotak jatah dari kampus, Erlina menyisihkan dua nasi kotak yang masih tersisa di meja panjang. Resnawan melongo melihat gadis ini.

“Buat teman di kos-kosanmu?” tanya Resnawan. Erlina tersenyum, menggeleng. Dia menghampiri seorang perempuan pemulung yang memilah-milah kardus nasi kotak. Para pemulung, biasanya memang datang ke kampus bila ada acara Ospek. Selain mengumpulkan kardus atau kertas bekas, mereka berharap ada lauk atau makanan enak yang masih tersisa dan bisa dimakan.

“Mak, ini buat Emak ya? Tuh kasihan si adik kayaknya lapar,” Erlina mengulurkan dua nasi kotak itu ke ibu pemulung yang ditemani bocah perempuan kecil, kira-kira berusia 5 atau 6 tahun. Sang ibu pemulung mencium tangan Erlina dan menyatakan terimakasih berkali-kali. Resnawan jadi trenyuh, ia ikut memberi bantuan spontanitas. Bukan nasi kotak, tapi uang Rp 10.000 yang ia berikan si anak kecil.

Kok kamu nangis?” Erlina mengernyitkan dahi, menoleh, menatap Resnawan. “Kamu cowok, tapi perasaan kamu sensitif juga, rupanya. Terharu ya?”

“Bukan itu, Lin…Geser kakimu dong,” Resnawan menunjuk ke bawah. Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.