Oleh: Agus Prasetyo Gumiawan (Iwan Prasetya)
Punya cita-cita setinggi Menara Monas atau Petronas, boleh dong? Dan salah satu obsesi saya, jujur aja, sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI). Tapi namanya saja keinginan. Tercapai ya syukur, nggak tercapai ya udah. Saya tetap asyik mainkan musik (rock) di atas stage. Syukur bisa duet bareng Mike Tramp atau Vina Panduwinata..(He he he..Nih dua orang sungguh idola saya..)
Saya berandai-andai, peran sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atau DPD RI, -akan- menuntut saya untuk lebih banyak turun ke daerah, khususnya di Daerah Pemilihan (Dapil) saya. Sebab di sanalah saya bisa menyerap banyak masukan dari rakyat, tentang apa yang mereka inginkan. Bukan apa yang pemerintah inginkan. Jangan sampai ada gejolak panas macam di Papua (OPM) atau Aceh (GAM). Rakyatlah pembayar pajak di negeri ini, yang seharusnya punya hak untuk menentukan keinginan dari kebutuhannya.
Sistem hearing langsung ini, menurut saya sebetulnya justru lebih efektif karena tak ada ‘perantaraan kepentingan’ yaitu partai. Di mana tiap kebijakan tak dikembalikan pada timbangan untung atau ruginya partai.
Di setiap reses atau kunjungan langsung (perorangan ataupun tim) ke daerah-daerah, saya bisa melihat langsung bagaimana kondisi yang dilaporkan rakyat. Bukan laporan yang hanya dibaca dari atas meja. Komunikasi intens yang persuasif juga bisa dibangun dari dialog langsung seperti ini. Sehingga saya ingin, bahwa rakyat bisa merasakan keterwakilan mereka di DPD RI (meski mungkin peran DPD sendiri masih menemui kendala (?) alias belum optimal lantaran ‘kerancuan’ dengan institusi DPR RI)
Biar aja ada yang ngomong nylekit waktu itu bahwa “..masih mendhing DPD kita undang. Kalo nggak, ‘kan nggak apa-apa juga…” atau adanya wacana ‘sakit’ yang menyatakan sebaiknya DPD dibubarkan. Maapin aja dah. ‘Kali tuh oknum lagi nggak kebagian duit sidang atau reses, atau mau jadi Pansus trus nggak jadi..he he he.
Namun bagaimanapun, saya berprinsip DPD RI tak boleh goyah. Khittahnya sebagai lembaga tinggi perwakilan rakyat daerah harus tetap berjalan sesuai yang diamanahkan oleh konstitusi. Sebagai anggota DPD RI, saya harus tetap menjalankan amanah mendengarkan aspirasi rakyat di daerah, dan memperjuangkan kemajuan daerah saya agar –setidaknya bisa hampir—sama dengan daerah lain yang sudah lebih dulu maju, di Indonesia.
Saya sendiri, ingin bisa berbuat banyak untuk daerah tempat saya tinggal, Kalimantan (Tengah). Saya melihat provinsi ini masih perlu banyak ‘sentuhan’ agar bisa lebih terangkat. Masih ada kesenjangan informasi. Masih banyak anak-anak sekolah di pelosok yang harus berjalan kaki saat musim hujan, tanpa sepatu lantaran becek. Masih banyak jalan-jalan utama atau jalan negara yang lebarnya sama dengan jalan di kompleks perumahan di Jawa. Dan lain-lain, dan lain-lain.
Inilah yang bisa dijadikan input atau masukan pada rekan-rekan di DPR RI, yang akan mempertimbangkan soal anggarannya. Dan “perguliran bola sampai ke gawang dengan baik dan aman” itulah, yang menjadi tanggung jawab saya dan rekan-rekan di DPD RI. Selebihnya ya berdoa, semoga kucuran dana untuk pembangunan di daerah agar tidak terlalu ‘njomplang’ alias not balance. Lhoh, kok jadi jauh banget ya mengkhayalnya?… ***



komentar Anda